
Pantau - Peneliti Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah, Rendy Muhamad Iqbal, mengembangkan teknologi pengolahan air berbasis Vacuum Membrane Distillation (VMD) atau distilasi membran vakum untuk mengatasi penurunan kualitas sumber air bersih akibat intrusi air laut.
Teknologi tersebut dikembangkan sebagai alternatif pengolahan air payau, air sungai, dan air rawa yang terdampak masuknya air laut, terutama di wilayah pesisir Kalimantan Tengah.
Rendy mengatakan salah satu hasil pengujian teknologi membran menunjukkan kemampuan menahan kandungan garam hingga 99,9 persen dengan kondisi pH air yang netral.
Penelitian tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan penyediaan air bersih ketika sumber air baku masyarakat mengalami peningkatan kadar garam, khususnya saat musim kemarau.
Intrusi Air Laut Ancam Kualitas Air Bersih di Kalimantan Tengah
Rendy yang merupakan peneliti Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) serta Program Studi Kimia FMIPA UPR menjelaskan bahwa intrusi air laut dapat mengubah kualitas air sungai.
"Intrusi air laut dapat membuat air sungai yang menjadi sumber air baku berubah menjadi payau bahkan terasa asin," kata Rendy di Palangka Raya, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin menjadi tantangan saat musim kemarau karena debit air sungai mengalami penurunan.
Salah satu wilayah yang menghadapi persoalan tersebut adalah Kabupaten Kotawaringin Timur, terutama kawasan Samuda dan Bagendang.
Ketika kemarau panjang terjadi, intrusi air laut dilaporkan mencapai kedua kawasan tersebut dan memengaruhi kualitas sumber air baku Perumdam Tirta Mentaya.
Persoalan serupa juga ditemukan di Kabupaten Kapuas dan sejumlah kawasan lain yang berada tidak jauh dari pesisir.
Rendy menilai banyaknya sumber air di suatu wilayah tidak selalu menjamin ketersediaan air dengan kualitas yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat.
“Persoalan air bersih di Kalteng bukan hanya soal ketersediaan air, tetapi juga kualitasnya. Sungai dan rawa merupakan sumber air yang penting bagi masyarakat," jelasnya.
Teknologi VMD Pisahkan Garam dari Air Menggunakan Membran
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Rendy mengembangkan teknologi distilasi membran vakum yang memanfaatkan perbedaan tekanan uap dalam proses pemisahan air dan garam.
Dalam proses VMD, air dipanaskan pada suhu di bawah titik didih untuk menghasilkan perbedaan tekanan uap di kedua sisi membran.
Uap air kemudian melewati pori-pori membran dan didinginkan kembali hingga berubah menjadi air.
Sementara itu, kandungan garam tertahan pada sisi air umpan sehingga tidak ikut melewati proses pemisahan bersama uap air.
Melalui mekanisme tersebut, teknologi VMD berpotensi digunakan untuk mengolah air payau menjadi air dengan kandungan garam yang jauh lebih rendah.
Hasil Pengujian Membran Tunjukkan Penolakan Garam 99,9 Persen
Rendy menjelaskan bahwa penelitian tersebut mencakup pengembangan membran hidrofobik dan omnifobik.
Kedua jenis membran dirancang dengan karakteristik permukaan yang membuat cairan tidak mudah membasahi pori-porinya.
Sifat tersebut diperlukan agar proses pemisahan uap air dari kandungan garam dapat berlangsung dengan baik.
Berdasarkan salah satu hasil pengujian, membran yang dikembangkan mampu mencapai tingkat penolakan garam hingga 99,9 persen.
Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar kandungan garam dalam air umpan dapat tertahan selama proses pemisahan.
Pengujian juga menunjukkan bahwa air hasil pengolahan memiliki pH pada kondisi netral.
Selain membran hidrofobik, Rendy mengembangkan membran omnifobik untuk mengurangi risiko pembasahan pori akibat cairan atau kontaminan tertentu.
Pengembangan tersebut bertujuan menjaga kinerja membran agar proses pengolahan air tidak mudah terganggu oleh zat yang terkandung dalam sumber air.
Penelitian UPR Diharapkan Jadi Alternatif Pengolahan Air Payau
Rendy menilai teknologi membran yang sedang dikembangkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghadapi persoalan intrusi air laut di Kalimantan Tengah.
Teknologi tersebut ditujukan bagi sumber air sungai dan rawa yang mengalami perubahan kualitas akibat masuknya air asin dari wilayah pesisir.
Kebutuhan pengolahan air menjadi penting karena masyarakat di sejumlah daerah masih bergantung pada sungai dan rawa sebagai sumber air baku.
Melalui penelitian ini, UPR berupaya mengembangkan solusi pengolahan air yang dapat mendukung penyediaan sumber air dengan kualitas lebih baik di wilayah terdampak intrusi air laut.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf




