
Pantau - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Aliansi Aksi Asia Pasifik untuk Sumber Daya Manusia Kesehatan (AAAH) memperkuat kerja sama dengan jaringan 22 negara untuk mengatasi kekurangan dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan melalui Konferensi AAAH ke-14 di Bali.
Kolaborasi tersebut menjadi perhatian karena Indonesia masih menghadapi persoalan pemerataan tenaga kesehatan, dengan sekitar 37 persen puskesmas belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan prioritas secara lengkap.
Selain itu, sekitar 41 persen rumah sakit umum daerah (RSUD) kabupaten dan kota belum memenuhi kebutuhan tujuh dokter spesialis dasar.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa investasi pada sumber daya manusia kesehatan harus menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
“Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, pendidikan kesehatan yang lebih baik, dan transformasi digital. Kita juga harus memperkuat kerja sama regional, berbagi pengetahuan, dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Sebanyak 22 Negara Bahas Tantangan Tenaga Kesehatan
Konferensi AAAH ke-14 mengusung tema Membangun Tenaga Kesehatan Masa Depan: Menghubungkan Tata Kelola, Pendidikan, dan Transformasi Digital untuk Sistem Kesehatan yang Berkelanjutan.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri atas pembuat kebijakan, tenaga pendidik, profesional kesehatan, dan mitra pembangunan.
Pertemuan ini menjadi wadah pertukaran pengalaman dan pengetahuan untuk memperkuat sistem kesehatan di kawasan Asia-Pasifik.
Benjamin berharap konferensi menghasilkan rekomendasi praktis dan komitmen nyata dalam membangun tenaga kesehatan yang kompeten dan merata.
Indonesia juga menyatakan kesiapan memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi tantangan pembangunan sumber daya manusia kesehatan.
Dunia Diproyeksikan Kekurangan 10 Juta Tenaga Kesehatan pada 2030
Ketua AAAH sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Anna Kurniati, mengingatkan bahwa tantangan sektor kesehatan semakin kompleks.
"Tantangan tersebut meliputi peningkatan populasi lanjut usia, tingginya beban penyakit tidak menular, munculnya penyakit infeksi baru, dampak perubahan iklim, hingga ketimpangan global," katanya.
Menurut Anna, dunia diproyeksikan mengalami kekurangan sekitar 10 juta tenaga kesehatan pada 2030.
Kekurangan tersebut diperkirakan terutama terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
AAAH yang didirikan pada 2005 awalnya beranggotakan 10 negara sebelum berkembang menjadi jaringan 22 negara di kawasan Asia-Pasifik.
Aliansi tersebut bekerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk memperkuat kebijakan serta kapasitas tenaga kesehatan.
Konferensi Fokus pada Tata Kelola, Pendidikan, dan Digitalisasi
Konferensi AAAH ke-14 membahas tiga pilar utama dalam pengembangan tenaga kesehatan masa depan.
Pilar pertama mencakup penguatan kepemimpinan dan tata kelola, termasuk perencanaan serta pelaksanaan kebijakan kesehatan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.
Pilar kedua berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga kesehatan, mulai dari masa pendidikan hingga pengembangan karier.
Sementara itu, pilar ketiga menitikberatkan pada transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi kesehatan secara bertanggung jawab dan merata.
Teknologi yang menjadi perhatian meliputi layanan kesehatan jarak jauh atau telemedicine serta penggunaan rekam medis elektronik.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mendukung peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan.
WHO Tekankan Perlindungan dan Kesejahteraan Tenaga Kesehatan
Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pasifik Barat, Dr. Saia Ma’u Piukala, menekankan pentingnya menjaga hubungan kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien.
Menurutnya, tenaga kesehatan perlu mendapatkan perlindungan, kondisi kerja yang layak, kesempatan pengembangan karier, serta dukungan kesejahteraan.
“Saya dulu adalah seorang tenaga kesehatan, sebagai dokter bedah, dan saya paham betul apa artinya ketika seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Anda dengan harapan sederhana bahwa Anda akan melakukan yang terbaik. Ia mempercayai Anda, dan kita tidak boleh merusak kepercayaan itu karena setiap pasien, setiap ibu, dan setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik,” ungkap Dr. Saia.
Ia mengingatkan bahwa mutu pelayanan kesehatan berkaitan erat dengan kemampuan tenaga kesehatan mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Kemenkes Prioritaskan Pemerataan Tenaga Kesehatan di Daerah
Untuk mengatasi ketimpangan distribusi tenaga kesehatan, Kemenkes memanfaatkan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Sistem tersebut digunakan untuk memetakan persebaran tenaga kesehatan sekaligus memperkirakan kebutuhan tenaga medis di berbagai wilayah.
Pemerintah memprioritaskan daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan ketersediaan tenaga kesehatan, termasuk Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Melalui konferensi ini, AAAH menargetkan penyusunan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat perencanaan tenaga kesehatan, meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan tenaga medis, serta memperluas penerapan inovasi digital.
Hasil pertemuan diharapkan menjadi acuan bagi negara-negara anggota dalam membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan dan memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang aman serta berkualitas.
- Penulis :
- Aditya Yohan




