
Pantau - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing memperkuat hubungan persahabatan Indonesia dan China melalui diplomasi budaya dalam resepsi diplomatik peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang digelar di Beijing, Senin (2/11/2026) malam.
Resepsi tersebut menampilkan kekayaan budaya Nusantara melalui pertunjukan seni, musik tradisional, tarian daerah, hingga sajian kuliner khas Indonesia sebagai upaya mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menegaskan bahwa kerja sama antarmasyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan bilateral Indonesia dan China yang kuat dan berkelanjutan.
"Mereka yang mengenal saya tahu bahwa saya selalu percaya pada kerja sama antarmasyarakat. Itu sebabnya Anda mungkin sering melihat saya bernyanyi dan menari karena hubungan antarmasyarakat memang merupakan landasan yang membantu kerja sama kita dapat bertahan lama," kata Djauhari.
Resepsi diplomatik yang berlangsung sekitar tiga jam itu dihadiri sekitar 1.000 undangan, termasuk duta besar dan diplomat negara sahabat, pejabat pemerintah, pengusaha Indonesia dan China, serta warga negara Indonesia (WNI), termasuk mahasiswa.
Asisten Menteri Luar Negeri China, Hong Lei, turut hadir sebagai salah satu perwakilan pemerintah China dalam peringatan kemerdekaan Indonesia tersebut.
Djauhari Tekankan Kepercayaan sebagai Fondasi Hubungan Indonesia-China
Djauhari mengungkapkan bahwa selama menjalankan tugas diplomatik di China, dirinya telah bertemu dengan masyarakat dari berbagai provinsi dan latar belakang profesi, mulai dari pekerja, pemimpin bisnis, hingga pelajar.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan antarmasyarakat menjadi unsur penting dalam menjaga hubungan persahabatan kedua negara di tengah perubahan geopolitik, kondisi ekonomi, dan perbedaan budaya.
"Saya telah bertemu banyak orang dari berbagai provinsi dengan berbagai macam profesi mulai dari pekerja, pemimpin bisnis maupun pelajar. Saya telah mendengarkan cerita mereka, saya melihat pekerjaan mereka, meski geopolitik bisa berubah, perekonomian bisa naik dan turun, budaya mungkin berbeda tapi ketika orang-orang saling percaya, kita selalu bisa menemukan jalan," ujarnya.
Djauhari juga menyoroti perkembangan hubungan Indonesia dan China yang semakin erat selama dirinya menjalankan tugas sebagai duta besar.
Ia secara khusus menyinggung hubungan baik antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden China Xi Jinping yang dinilainya dibangun atas dasar rasa hormat, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
"Saya juga merasakan sendiri persahabatan antara dua pemimpin besar kita, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Xi Jinping. Saya telah melihat rasa hormat mereka, kepercayaan mereka, dan kerendahan hati mereka untuk mendengarkan sehingga persahabatan memberikan dampak bagi bangsa kita," ungkap Djauhari.
Setelah hampir sembilan tahun bertugas di China, Djauhari turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat China atas dukungan serta persahabatan yang terjalin selama masa penugasannya.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, kebaikan Anda, dan yang terpenting, persahabatan Anda. Saat saya melihat ke belakang, saya merasakan rasa syukur yang mendalam. Saya tidak tahu apakah saya sudah melakukan cukup banyak hal untuk Indonesia dan China namun ada rasa nyaman saat meyakini bahwa persahabatan kita terjalin karena pengalaman bersama untuk bersama-sama bergerak menuju masa depan bersama," katanya.
Tarian Nusantara dan Kolaborasi Musik Indonesia-China Meriahkan Resepsi
Diplomasi budaya dalam resepsi HUT ke-81 RI turut diwujudkan melalui penampilan berbagai kesenian tradisional Indonesia yang melibatkan komunitas budaya di China.
Salah satu penampilan berasal dari sanggar tari Yingde, Provinsi Guangdong, China, yang beranggotakan generasi ketiga komunitas guiqiao.
Komunitas guiqiao merupakan kelompok masyarakat yang lahir di luar China dan kemudian bermigrasi kembali ke negara tersebut.
Para penari sanggar Yingde membawakan sejumlah tarian tradisional Indonesia, yakni Tari Kembang Merona dari Jakarta, Tari Tak Tong Tong, dan Tari Warak Dugder.
Keterlibatan generasi ketiga komunitas tersebut dalam pertunjukan tari Indonesia menjadi salah satu bentuk keberlanjutan hubungan budaya lintas generasi.
Selain tarian, para undangan juga disuguhi penampilan gamelan Lancaran Kotek yang dipimpin Risnandar, dosen Central Conservatory of Music (CCOM) Beijing, dengan membawakan musik tradisional Jawa.
Risnandar turut menghadirkan kolaborasi musik lintas budaya melalui perpaduan angklung, alat musik tradisional Indonesia, dengan erhu, alat musik gesek tradisional China.
Kolaborasi kedua alat musik tersebut mengiringi sejumlah lagu Indonesia dan China, yakni "Singsingso", "Caiyun Zhui Yue", "Bengawan Solo", "Bunga Jumpa", dan "Nan Er Dang Zi Qiang".
Kelompok vokal Dharma Wanita Persatuan (DWP) Beijing juga memeriahkan resepsi dengan membawakan dua lagu Indonesia, yakni "Soleram" dan "Bengawan Solo".
Dubes Djauhari Ajak Undangan Menari Bersama
Suasana resepsi semakin meriah ketika Duta Besar Djauhari Oratmangun turut tampil menghibur para undangan bersama Trio Oratmangun Brothers (Obras) dan Daniel Pattinama.
Dalam penampilan tersebut, Djauhari bersama para musisi membawakan sejumlah lagu bernuansa ceria dan bertempo cepat, antara lain "Maumere" atau "Gemu Fa Mi Re", "Tabola Bale", "Cerlele", dan "Poco-poco".
Alunan musik tersebut mengajak para undangan untuk ikut menari bersama mengikuti irama lagu-lagu yang dibawakan.
Keterlibatan langsung Djauhari dalam pertunjukan musik dan tarian tersebut merupakan bagian dari pendekatan diplomasi yang menekankan pentingnya interaksi antarmasyarakat Indonesia dan China.
Kuliner Nusantara Jadi Bagian Diplomasi Budaya KBRI Beijing
Selain pertunjukan seni dan musik, KBRI Beijing memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia melalui berbagai hidangan khas Nusantara kepada para tamu undangan.
Sejumlah makanan tradisional yang disajikan meliputi rendang, sate, gado-gado, gulai ayam, rujak buah, dan tahu gejrot.
Kehadiran kuliner khas Indonesia tersebut melengkapi rangkaian pertunjukan budaya yang ditampilkan sepanjang resepsi diplomatik.
Melalui perpaduan tarian tradisional, kolaborasi musik Indonesia-China, lagu daerah, dan kuliner Nusantara, KBRI Beijing memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Resepsi diplomatik peringatan HUT ke-81 RI itu sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat serta mendukung keberlanjutan kerja sama bilateral Indonesia dan China melalui diplomasi budaya.
- Penulis :
- Shila Glorya




