HOME  ⁄  Nasional

BPOM Ingatkan Bahaya Salah Pengobatan Mandiri, 78,43 Persen Warga Indonesia Pilih Self-Care

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BPOM Ingatkan Bahaya Salah Pengobatan Mandiri, 78,43 Persen Warga Indonesia Pilih Self-Care
Foto: (Sumber :Kepala BPOM Taruna Ikrar (tengah). ANTARA/HO-BPOM.)

Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menekankan pentingnya akses informasi kesehatan yang tepercaya untuk memastikan praktik perawatan kesehatan mandiri atau self-care dilakukan secara aman, terutama di tengah meningkatnya penjualan obat secara daring dan penggunaan kecerdasan buatan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan praktik pengobatan mandiri kini semakin banyak dilakukan masyarakat sehingga diperlukan pengawasan, edukasi, dan keterlibatan berbagai pihak untuk mencegah penyalahgunaan obat.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025, sebanyak 78,43 persen penduduk Indonesia yang mengalami keluhan kesehatan memilih melakukan pengobatan mandiri.

"Self-care bukan pengganti pelayanan kesehatan. Self-care harus dilakukan secara tepat dan tetap memerlukan konsultasi dengan tenaga kesehatan, apabila gejala yang dialami menetap atau memburuk," kata Taruna dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Menurut Taruna, perawatan mandiri tidak lagi hanya menjadi pilihan individu, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, industri, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah sebagai regulator.

BPOM Perkuat Pengawasan Obat Daring dan Informasi Kesehatan Digital

BPOM menilai perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan produk kesehatan, tetapi juga menghadirkan risiko penyalahgunaan obat serta penyebaran informasi yang tidak akurat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BPOM terus memperkuat transparansi informasi dan pengawasan melalui berbagai inovasi digital.

Langkah tersebut meliputi penggunaan kode batang dua dimensi atau 2D Barcode, pelabelan elektronik atau e-labelling, serta pengembangan aplikasi BPOM Mobile.

Selain itu, BPOM meningkatkan pengawasan siber terhadap perdagangan obat dan produk kesehatan melalui platform perdagangan elektronik atau e-commerce.

Pengawasan tersebut dilakukan untuk mendukung akses masyarakat terhadap produk obat yang aman, bermutu, dan sesuai dengan ketentuan.

BPOM juga terus mengintensifkan edukasi masyarakat melalui kampanye Cek KLIK yang merupakan singkatan dari Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.

Melalui kampanye tersebut, masyarakat didorong untuk memeriksa kondisi kemasan, membaca informasi pada label, memastikan izin edar, serta memperhatikan tanggal kedaluwarsa sebelum menggunakan produk kesehatan.

Taruna menegaskan bahwa praktik perawatan mandiri harus dilakukan secara rasional dan berdasarkan bukti ilmiah agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.

BPOM Dorong Kolaborasi untuk Pastikan Obat Aman dan Bermutu

BPOM menyatakan komitmennya dalam mendukung transformasi kesehatan masyarakat melalui penguatan sistem perawatan mandiri yang aman dan bertanggung jawab.

Menurut Taruna, peran regulator saat ini tidak hanya berfokus pada pengawasan produk, tetapi juga menjadi penghubung antara inovasi industri dan perlindungan kesehatan masyarakat.

"Peran regulator kini bertransformasi dari sekadar gatekeeper menjadi bridge (jembatan) yang menghubungkan inovasi industri dengan perlindungan kesehatan publik. Pendekatan berbasis risiko dan kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) menjadi kunci untuk mempercepat akses produk obat yang aman, efisien, dan bermutu tanpa mengorbankan standar keselamatan," ujar Taruna.

Ia menilai kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam memastikan perkembangan industri kesehatan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat.

Sementara itu, riset Global Self-Care Federation (GSCF) menunjukkan bahwa praktik pengobatan mandiri yang tepat berpotensi menghemat biaya kesehatan global hingga 144 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun.

Pengobatan mandiri yang dilakukan secara benar juga dinilai berpotensi menghemat miliaran jam waktu pelayanan medis di berbagai fasilitas kesehatan.

Global Self-Care Federation Tekankan Pentingnya Literasi Kesehatan

Direktur Jenderal Global Self-Care Federation, Greg Perry, mendorong pemerintah, industri, dan organisasi kesehatan untuk memperkuat kerja sama dalam membangun sistem perawatan mandiri yang aman.

Menurutnya, peningkatan kepercayaan masyarakat perlu didukung dengan informasi yang akurat, edukasi kesehatan, serta ketersediaan data yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

“Namun, yang juga tak kalah penting adalah data laporan yang memadai untuk menjadi bukti bagi pemerintah, organisasi kesehatan internasional, serta pemangku kepentingan lainnya untuk dapat mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatan,” katanya.

Ketua APSMI Rachmadi Joesoef turut menekankan pentingnya memberikan pengetahuan yang tepat kepada masyarakat agar dapat menentukan pilihan perawatan kesehatan secara aman dan sesuai kebutuhan.

Rachmadi menyebut lebih dari 150 inisiatif penguatan perawatan mandiri telah dijalankan di kawasan Asia Pasifik sejak 2024.

Berbagai inisiatif tersebut mencakup peningkatan literasi kesehatan, edukasi bagi apoteker dan tenaga ritel, pengembangan informasi kesehatan digital, serta penerapan pendekatan regulasi yang adaptif.

BPOM menegaskan bahwa akses terhadap informasi kesehatan yang dapat dipercaya menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung praktik perawatan mandiri tanpa mengabaikan kebutuhan konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026