HOME  ⁄  Nasional

BRIN Ungkap Modifikasi Cuaca di Sumsel Berhasil Turunkan Polusi Udara, Jarak Pandang Pulih hingga 8 Kilometer

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BRIN Ungkap Modifikasi Cuaca di Sumsel Berhasil Turunkan Polusi Udara, Jarak Pandang Pulih hingga 8 Kilometer
Foto: Prajurit TNI AU dibantu pekerja memindahkan boks berisi dry ice atau es kering sebagai bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke dalam pesawat Cassa C-212 milik Skadron IV Wing Udara 1.2 Grup 1 Angkut Lanud Abdulrachman Saleh di Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH), Palembang, Sumatera Selatan (sumber: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan hasil positif pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan yang ditandai dengan penurunan polusi udara, peningkatan curah hujan, serta pemulihan jarak pandang dari kurang dari 300 meter menjadi mendekati 8 kilometer.

Kepala BRIN Arif Satria dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/11/2026), menyampaikan bahwa perbaikan kondisi lingkungan di Sumatera Selatan mulai terlihat sejak 24 Oktober 2026.

Pelaksanaan OMC tersebut melibatkan kolaborasi lintas sektor antara BRIN, TNI Angkatan Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta sejumlah instansi terkait.

"Setelah kita melihat kerja keras dari teman-teman TNI AU bersama BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Darat, Polri, serta teman-teman dari BRIN, kita bisa menyaksikan upaya yang sudah maksimal di Sumatera Selatan," katanya.

Arif menjelaskan bahwa hasil sementara pelaksanaan OMC dapat dilihat melalui tiga indikator utama, yakni penurunan konsentrasi polutan udara, peningkatan intensitas hujan, dan membaiknya jarak pandang di wilayah terdampak.

Konsentrasi PM 2,5 Turun dan Jarak Pandang Kembali Mendekati Normal

Salah satu indikator utama perbaikan kualitas udara di Sumatera Selatan adalah penurunan konsentrasi partikulat halus PM 2,5 yang sebelumnya berada pada tingkat berbahaya.

PM 2,5 merupakan partikel polusi udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia.

Menurut BRIN, konsentrasi PM 2,5 mulai mengalami penurunan signifikan sejak 24 Oktober 2026 setelah intensitas pelaksanaan OMC ditingkatkan seusai 16 Oktober 2026.

Penurunan konsentrasi partikel polusi tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya kualitas udara selama pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.

Selain penurunan tingkat polusi, peningkatan curah hujan juga mulai terpantau sejak 24 Oktober 2026 seiring dengan pelaksanaan penyemaian awan secara intensif.

Perbaikan kondisi atmosfer turut terlihat dari meningkatnya jarak pandang yang sebelumnya sempat berada di bawah 300 meter akibat buruknya kualitas udara.

Setelah pelaksanaan OMC, jarak pandang meningkat hingga mendekati 8.000 meter atau sekitar 8 kilometer sehingga kondisinya dinilai kembali mendekati normal.

Arif menyampaikan bahwa hujan kini telah turun setiap hari di Sumatera Selatan sebagai salah satu perkembangan positif dari upaya penanganan kondisi lingkungan.

"Sekarang ini, kondisi di Sumatera Selatan, hujan sudah turun setiap hari. Kita bersyukur bahwa langkah yang sudah dilakukan oleh tim, tentu didukung oleh pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang juga sudah bekerja keras untuk menyukseskan kegiatan OMC ini," ujar Arif.

BRIN menegaskan bahwa perbaikan kondisi udara tersebut tidak terlepas dari kerja sama berbagai lembaga, termasuk TNI AU, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Darat, Polri, serta pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca sekaligus upaya penanganan kebakaran yang berdampak terhadap kualitas udara di Sumatera Selatan.

OMC Sumsel Capai 117 Penerbangan, Gunakan 145 Ton Garam

Berdasarkan data pelaksanaan operasi di Sumatera Selatan, kegiatan modifikasi cuaca telah dilakukan sebanyak 117 kali penerbangan untuk mendukung proses penyemaian awan.

Dalam seluruh penerbangan tersebut, bahan yang digunakan mencapai 145.200 kilogram atau sekitar 145,2 ton natrium klorida (NaCl) atau garam.

Selain garam, pelaksanaan OMC juga memanfaatkan 24.766 kilogram es kering (dry ice) sebagai bahan untuk membantu proses pembentukan dan penyemaian awan.

Penggunaan kedua bahan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran operasi.

Sementara itu, kegiatan pemadaman kebakaran melalui metode pengeboman air (water bombing) menggunakan helikopter telah dilakukan sebanyak 756 kali penerbangan.

Total volume air yang digunakan dalam seluruh kegiatan pemadaman melalui helikopter tersebut mencapai lebih dari 81 juta liter.

Pelaksanaan pemadaman kebakaran dan modifikasi cuaca tersebut menjadi bagian dari upaya terpadu untuk menangani kondisi lingkungan dan memperbaiki kualitas udara di Sumatera Selatan.

BRIN Siapkan Teknologi Dumakron Berbasis Drone untuk Modifikasi Cuaca

Selain mengevaluasi hasil pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan, BRIN berencana mengembangkan teknologi baru bernama Dumakron untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi modifikasi cuaca.

Dumakron merupakan teknologi yang menggunakan partikel garam atau natrium klorida berukuran sangat kecil, yakni sekitar 2–5 mikron, sebagai bahan dalam proses modifikasi cuaca.

Berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan pesawat berawak untuk menyebarkan bahan penyemaian awan, teknologi Dumakron direncanakan memanfaatkan pesawat nirawak (drone).

Melalui penggunaan pesawat nirawak, partikel garam berukuran mikro dapat disebarkan untuk mendukung proses modifikasi cuaca di wilayah sasaran.

BRIN merencanakan penerapan teknologi Dumakron dalam kegiatan modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan sebagai bagian dari pengembangan metode operasi yang lebih efisien.

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan penyemaian awan.

"Dengan DumaKron ini, tentu pelaksanaannya lebih efisien, lebih murah, dan lebih efektif. Teknologi ini akan kita gunakan bersama-sama," ucap dia.

BRIN berharap pengembangan teknologi Dumakron dapat memperkuat kemampuan pelaksanaan modifikasi cuaca di berbagai wilayah Indonesia, terutama dalam mendukung penanganan kondisi lingkungan yang membutuhkan peningkatan curah hujan.

Keberhasilan sementara OMC di Sumatera Selatan juga diharapkan menjadi dasar pengembangan metode modifikasi cuaca yang lebih efektif melalui pemanfaatan teknologi dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026