HOME  ⁄  Nasional

Gunung Karangetang di Sulawesi Utara Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 800 Meter dan Guguran Lava Ancam Sejumlah Sungai

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Gunung Karangetang di Sulawesi Utara Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 800 Meter dan Guguran Lava Ancam Sejumlah Sungai
Foto: (Sumber :Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut) kembali erupsi dengan kolom abu letusan kurang lebih 800 meter, Kamis. ANTARA/HO-Pos PGA Karangetang.)

Pantau - Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak kawah pada Kamis (5/11/2026).

Erupsi yang terjadi sekitar pukul 13.14 WITA tersebut disertai guguran lava pijar yang mengalir ke sejumlah arah dan berpotensi mengancam kawasan aliran sungai di sekitar gunung.

Pengamat Gunung Api Pos PGA Karangetang, Nadhif Dhaifullah, membenarkan aktivitas erupsi tersebut berdasarkan hasil pengamatan petugas.

"Telah terjadi erupsi Gunung Karangetang, pada pukul 13:14 WITA dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak kawah," kata Nadhif di Manado, Kamis.

Kolom abu letusan teramati berwarna putih, kelabu, hingga cokelat dengan intensitas tebal yang bergerak mengikuti arah angin menuju selatan dan barat daya.

Guguran Lava Pijar Mengarah ke Sejumlah Aliran Sungai

Selain mengeluarkan kolom abu, Gunung Karangetang juga menunjukkan aktivitas guguran lava pijar dari puncak kawah utara yang mengalir ke sejumlah sektor lereng gunung.

Guguran lava tersebut bergerak ke arah selatan sejauh sekitar 200 hingga 700 meter melalui pelana kawah utara dan selatan, kemudian berbelok ke arah barat serta barat daya sejauh 200 hingga 400 meter.

Sementara itu, luncuran lava ke arah barat dan barat daya teramati mencapai jarak sekitar 700 hingga 1.000 meter dari pusat aktivitas.

Aliran lava tersebut berpotensi mengarah ke sejumlah sungai, yakni Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang.

Di sektor barat laut, guguran lava juga teramati meluncur sejauh 500 hingga 700 meter dan berpotensi menuju Kali Batuare, Kali Batukole, serta Kali Malrbuhe.

Aktivitas guguran lava tersebut menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama warga yang bermukim di sekitar lereng dan aliran sungai yang berhulu dari Gunung Karangetang.

Status Gunung Karangetang Level II, Warga Dilarang Mendekati Kawah

Hingga Kamis (5/11/2026), status aktivitas Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada meskipun kembali mengalami erupsi.

Petugas merekomendasikan masyarakat, pengunjung, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah, melakukan pendakian, maupun beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya.

Zona berbahaya tersebut mencakup radius 1,5 kilometer dari kawah dua atau kawah utara dan kawah utama atau kawah selatan.

Selain itu, terdapat perluasan zona bahaya secara sektoral hingga sejauh 2,5 kilometer ke arah selatan dan barat daya.

Pembatasan aktivitas tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko masyarakat terdampak guguran lava maupun awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Material lava hasil aktivitas sebelumnya juga masih berpotensi mengalami keruntuhan karena kondisinya belum stabil, terutama pada sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.

Masyarakat Diminta Waspadai Ancaman Lahar Hujan dan Banjir Bandang

Selain ancaman guguran lava dan awan panas, masyarakat di sekitar Gunung Karangetang juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan.

Ancaman tersebut terutama perlu diperhatikan oleh warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai yang berhulu langsung dari kawasan puncak gunung.

Material vulkanik yang terbawa aliran air hujan berpotensi mengalir melalui sungai dan memicu banjir bandang hingga mencapai kawasan pesisir.

Warga di sekitar jalur aliran sungai diimbau meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan perubahan aktivitas vulkanik dan ancaman bencana susulan.

Masyarakat dan wisatawan juga diminta mematuhi rekomendasi zona bahaya selama Gunung Karangetang masih berada pada status Level II atau Waspada.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026