HOME  ⁄  Nasional

Kementerian Kehutanan Dorong Komunikasi Berbasis Sains untuk Perkuat Pelestarian Hutan dan Kepercayaan Publik

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kementerian Kehutanan Dorong Komunikasi Berbasis Sains untuk Perkuat Pelestarian Hutan dan Kepercayaan Publik
Foto: Penekanan tombol menandai peluncuran Center for Sustainability Communication and Policy (CSCP) Indonesia di Jakarta, Rabu 4/11/2026 (sumber: CSCP Indonesia)

Pantau - Kementerian Kehutanan menekankan pentingnya komunikasi berbasis bukti ilmiah dan keterlibatan aktif masyarakat untuk meningkatkan keberhasilan kebijakan kehutanan, memperkuat kepercayaan publik, serta mendukung pelestarian hutan di Indonesia.

Penasihat Utama Menteri Kehutanan, Bambang Soepijanto, menyatakan bahwa komunikasi harus menjadi bagian dari seluruh proses penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, bukan sekadar sarana pemerintah menyampaikan program kepada masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Bambang dalam kegiatan Sustainability Communication Expert Dialogue sekaligus peluncuran Center for Sustainability Communication and Policy (CSCP) Indonesia, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, komunikasi kebijakan perlu dilakukan sejak tahap identifikasi persoalan, perumusan kebijakan, pelaksanaan program, hingga evaluasi hasil kebijakan.

Dalam setiap tahapan tersebut, pemerintah perlu mendengarkan aspirasi masyarakat, memahami kondisi lapangan, serta menerima masukan untuk memperbaiki kebijakan yang dijalankan.

"Informasi yang mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi lapangan akan memperkuat kepercayaan publik. Karena itu, keberhasilan komunikasi perlu dilihat dari tumbuhnya pemahaman, kemampuan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga hutan," ujar Bambang.

Kementerian Kehutanan Tekankan Pentingnya Partisipasi Masyarakat

Bambang menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi kebijakan kehutanan tidak cukup hanya diukur berdasarkan banyaknya informasi yang disampaikan pemerintah.

Menurutnya, komunikasi harus mampu meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menjaga kelestarian hutan.

Penyampaian informasi yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan dinilai penting agar masyarakat memahami tujuan dan manfaat kebijakan pemerintah.

Bambang juga menyambut positif peluncuran CSCP Indonesia sebagai lembaga yang diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kerja sama berbagai pihak dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ia berharap lembaga tersebut menjadi wadah yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, dan pengalaman masyarakat di lapangan.

Kolaborasi tersebut diharapkan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa, serta masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan dan pengelolaan sumber daya hutan.

Kehadiran CSCP Indonesia juga diharapkan memberikan dukungan terhadap pencapaian program Indonesia's FOLU Net Sink 2030 yang berkaitan dengan pengendalian emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Program FOLU Net Sink 2030 Membutuhkan Dukungan dan Pemahaman Publik

Anggota Dewan Penasihat Indonesia's FOLU Net Sink 2030, Agus Justianto, menekankan pentingnya strategi komunikasi yang efektif untuk mendukung pencapaian target lingkungan berkelanjutan.

Menurut Agus, keberhasilan program tersebut memerlukan pemahaman dan dukungan masyarakat terhadap kebijakan pengendalian emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Ia menilai komunikasi pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan target maupun capaian program, tetapi juga perlu menjelaskan manfaat kebijakan bagi masyarakat.

Masyarakat juga perlu mengetahui peran yang dapat mereka lakukan dalam mendukung pelaksanaan program pengendalian emisi.

Selain komunikasi yang efektif, Agus menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan strategi dan kerja sama lintas sektor.

"Konsistensi pelaksanaan strategi dan program, disertai kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat, menjadi sesuatu yang penting untuk mewujudkannya," ungkap Agus.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar program keberlanjutan dapat dijalankan secara konsisten dan memperoleh dukungan yang lebih luas.

CSCP Indonesia Diluncurkan untuk Jembatani Sains, Kebijakan, dan Masyarakat

Ketua CSCP Indonesia, Trisia Megawati Kusuma Dewi, menjelaskan bahwa lembaga tersebut dibentuk sebagai pusat pemikiran sekaligus wadah kolaborasi dalam bidang komunikasi keberlanjutan.

CSCP Indonesia dikelola oleh Asosiasi Komunikasi Keberlanjutan Indonesia (Askomki) dengan tujuan memperkuat hubungan antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan masyarakat.

Menurut Trisia, komunikasi berbasis sains diperlukan agar berbagai persoalan pembangunan berkelanjutan dapat dijelaskan secara lebih mudah dipahami.

"Lembaga ini dibentuk untuk menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan, dan masyarakat melalui komunikasi berbasis sains, terutama dalam isu lingkungan, sosial, tata kelola (ESG), risiko bencana, dan ketangguhan masyarakat," jelas Trisia.

Ruang lingkup perhatian CSCP Indonesia mencakup persoalan lingkungan, sosial, tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG), risiko bencana, serta ketangguhan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, lembaga ini diharapkan mampu mengubah informasi ilmiah yang kompleks menjadi pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat dan pemangku kebijakan.

CSCP Indonesia juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan komunikasi keberlanjutan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pengusaha Hutan Sebut Pelestarian Lingkungan Kini Menjadi Tuntutan Pasar

Dari kalangan dunia usaha, Soegianto Soewandi dari Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyoroti perubahan pandangan terhadap kewajiban pelestarian lingkungan dalam kegiatan bisnis.

Menurutnya, pelestarian lingkungan tidak lagi hanya menjadi kewajiban perusahaan berdasarkan ketentuan pemerintah, tetapi juga berkembang menjadi tuntutan masyarakat dan konsumen.

"Dulu, kegiatan pelestarian lingkungan memang menjadi beban yang ditetapkan pemerintah, tetapi sekarang pasar sendiri yang menuntutnya," ujar Soegianto.

Perubahan tersebut membuat pelaku usaha perlu semakin memperhatikan penerapan praktik bisnis yang ramah lingkungan.

Soegianto menilai perhatian terhadap aspek lingkungan dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar.

Perusahaan yang mampu menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan citra dan nilai produknya di mata konsumen.

Namun, penerapan praktik bisnis berkelanjutan juga membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk media massa, agar informasi mengenai kegiatan usaha yang ramah lingkungan dapat tersampaikan secara efektif.

Akademisi Ingatkan Komunikasi Lingkungan Harus Sesuai Kondisi Masyarakat

Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Anter Venus, menilai bahwa konsep lingkungan berkelanjutan masih sering dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang abstrak.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyulitkan masyarakat untuk menghubungkan isu keberlanjutan dengan kebutuhan dan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, strategi komunikasi perlu dirancang dengan memperhatikan karakteristik masyarakat yang menjadi sasaran penyampaian informasi.

"Karena itu, strategi komunikasi perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan tingkat pemahaman masyarakat," tegas Anter.

Ia menekankan bahwa pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat diperlukan agar pesan mengenai pelestarian lingkungan dapat diterima dan dipahami secara efektif.

Sementara itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyambut baik kehadiran CSCP Indonesia sebagai ruang kolaborasi dalam memperkuat komunikasi kebijakan kehutanan.

Ristianto berharap CSCP Indonesia dapat menjadi mitra strategis kementerian dalam mengembangkan kegiatan komunikasi dan kampanye publik.

Menurutnya, kampanye tersebut perlu menggunakan bukti ilmiah yang akurat dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan responsif terhadap aspirasi masyarakat untuk membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Komunikasi Berbasis Sains Diharapkan Perkuat Kerja Sama Internasional

Dari perspektif hubungan internasional, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menilai komunikasi keberlanjutan berbasis ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam memperkuat kepercayaan mitra internasional.

Menurutnya, informasi yang didukung bukti ilmiah dapat membantu negara lain memahami kebijakan dan praktik pembangunan berkelanjutan yang dijalankan Indonesia.

Pengalaman Indonesia dalam mengelola sumber daya alam dan melindungi keanekaragaman hayati dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas kerja sama internasional.

Kerja sama tersebut berpotensi dikembangkan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam bidang riset, pendidikan, teknologi, serta peningkatan kapasitas.

Melalui komunikasi yang didukung bukti ilmiah, pengalaman Indonesia dalam pengelolaan lingkungan diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan hubungan kedua negara.

Secara keseluruhan, para pembicara dalam kegiatan Sustainability Communication Expert Dialogue menekankan pentingnya komunikasi yang akurat, mudah dipahami, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Peluncuran CSCP Indonesia diharapkan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat dalam mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Melalui komunikasi berbasis bukti ilmiah dan partisipasi masyarakat, upaya pelestarian hutan serta pencapaian Indonesia's FOLU Net Sink 2030 diharapkan memperoleh dukungan publik yang lebih luas sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026