
Pantau - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengungkapkan bahwa jumlah penduduk miskin di Jakarta mengalami penurunan sekitar 6.500 orang, seiring dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ibu kota menjadi 85,88 poin pada 2026.
Pramono menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta Utara pada Jumat.
Menurutnya, penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 6.500 orang merupakan capaian yang cukup besar, mengingat upaya mengurangi kemiskinan, terutama kemiskinan ekstrem, di Jakarta menghadapi berbagai tantangan.
"Kurang lebih 6.500 orang. Jadi ada penurunan yang cukup signifikan karena di Jakarta itu untuk bisa turun sampai dengan kelompok miskin ekstrem 6.500 itu angkanya juga cukup besar," jelas Pramono.
Penurunan jumlah penduduk miskin tersebut menjadi salah satu indikator perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat di Jakarta.
Selain berkurangnya angka kemiskinan, pembangunan manusia di DKI Jakarta juga menunjukkan perkembangan positif berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS Catat IPM Jakarta 2026 Mencapai 85,88 Poin
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat Indeks Pembangunan Manusia pada 2026 mencapai 85,88 poin atau meningkat 0,83 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 0,98 persen dari capaian IPM Jakarta pada 2025 yang tercatat sebesar 85,05 poin.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan bahwa capaian IPM sebesar 85,88 poin menempatkan pembangunan manusia di Jakarta dalam kategori sangat tinggi.
Menurutnya, peningkatan pembangunan manusia di Jakarta berlangsung secara konsisten selama lima tahun terakhir.
Pada 2022, IPM DKI Jakarta tercatat sebesar 82,77 poin, kemudian meningkat menjadi 83,55 poin pada 2023.
Tren kenaikan tersebut berlanjut pada 2024 dengan capaian 84,15 poin, sebelum kembali meningkat menjadi 85,05 poin pada 2025.
Pada 2026, IPM Jakarta kembali mengalami peningkatan hingga mencapai 85,88 poin atau bertambah 3,11 poin dibandingkan dengan kondisi pada 2022.
"(Sejak 2022) hingga 2026 bertambah 3,11 poin. Peningkatan pada tahun 2026, terjadi pada seluruh indikator penyusunnya, baik indikator kesehatan, pendidikan maupun pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan," kata Kadarmanto di Jakarta, Kamis (5/11).
Peningkatan pada seluruh indikator penyusun IPM tersebut menunjukkan adanya perbaikan dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup masyarakat Jakarta.
Umur Harapan Hidup Warga Jakarta Naik Jadi 76,44 Tahun
Selain peningkatan IPM, BPS DKI Jakarta mencatat adanya kenaikan Umur Harapan Hidup Saat Lahir pada 2026.
Berdasarkan data BPS, umur harapan hidup masyarakat Jakarta pada 2026 mencapai 76,44 tahun atau meningkat 0,17 tahun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pada 2025, Umur Harapan Hidup Saat Lahir di Jakarta tercatat sebesar 76,27 tahun sebelum meningkat menjadi 76,44 tahun pada 2026.
Indikator Umur Harapan Hidup Saat Lahir digunakan untuk memperkirakan rata-rata jumlah tahun yang dapat dijalani bayi baru lahir apabila pola kematian menurut kelompok umur pada tahun pengukuran tetap berlaku sepanjang hidupnya.
Dengan capaian 76,44 tahun, bayi yang lahir di Jakarta pada 2026 secara statistik diperkirakan dapat menjalani kehidupan rata-rata sekitar 76,4 tahun berdasarkan kondisi mortalitas pada tahun tersebut.
Kenaikan umur harapan hidup tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan IPM Jakarta bersama dengan perbaikan indikator pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Peningkatan Pendidikan dan Ekonomi Dorong Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan manusia berdasarkan tiga dimensi utama, yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak.
Dimensi umur panjang dan hidup sehat mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat yang salah satunya diukur melalui Umur Harapan Hidup Saat Lahir.
Sementara itu, dimensi pengetahuan menggambarkan capaian pembangunan di bidang pendidikan melalui indikator yang berkaitan dengan tingkat pendidikan masyarakat.
Adapun dimensi standar hidup layak menggambarkan kemampuan ekonomi masyarakat yang diukur menggunakan pengeluaran riil per kapita yang telah disesuaikan.
BPS DKI Jakarta menyatakan bahwa seluruh indikator utama tersebut mengalami peningkatan pada 2026 sehingga turut mendorong kenaikan IPM secara keseluruhan.
Peningkatan IPM selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan sejumlah indikator pembangunan manusia di Jakarta, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Di sisi lain, penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 6.500 orang yang disampaikan Gubernur Pramono Anung menjadi perkembangan positif dalam upaya pengurangan kemiskinan di ibu kota.
Dengan IPM mencapai 85,88 poin dan umur harapan hidup meningkat menjadi 76,44 tahun, DKI Jakarta mempertahankan status pembangunan manusia dalam kategori sangat tinggi pada 2026.
- Penulis :
- Shila Glorya




