HOME  ⁄  Nasional

Kemenag Dorong UIN dan Perguruan Tinggi Islam Buka Prodi Kepesantrenan, Soroti Potensi Pendidikan dan Ekonomi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemenag Dorong UIN dan Perguruan Tinggi Islam Buka Prodi Kepesantrenan, Soroti Potensi Pendidikan dan Ekonomi
Foto: Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Mastuki, menggelar pertemuan dengan rektorat UIN SATU Tulung Agung (sumber: Kemenag)

Pantau - Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) mendorong Universitas Islam Negeri (UIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) lainnya membuka program studi (prodi) khusus pesantren atau kepesantrenan untuk memperkuat kajian akademik mengenai sejarah, tradisi keilmuan, pendidikan, dan potensi ekonomi pesantren.

Usulan tersebut disampaikan Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Mastuki, melalui keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Mastuki menilai kajian pesantren memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi disiplin keilmuan tersendiri dalam sistem pendidikan tinggi keagamaan Islam.

"Ada ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan," ujar Mastuki.

Menurutnya, UIN maupun PTKI lainnya dapat menginisiasi pembukaan program studi kepesantrenan dengan mengajukan naskah akademik dan penilaian pakar (expert judgement) kepada Kementerian Agama.

Langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang pengembangan kajian pesantren secara lebih terstruktur dan mendalam di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Kemenag Nilai Sejarah dan Tradisi Pesantren Layak Jadi Disiplin Akademik

Mastuki menjelaskan bahwa pesantren memiliki sejarah panjang dan kekayaan tradisi keilmuan yang dapat menjadi dasar pengembangan program studi khusus di perguruan tinggi.

Kelayakan tersebut didukung ketersediaan sumber daya, melimpahnya referensi ilmiah, serta kontribusi pesantren dalam perjalanan sejarah pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia menekankan bahwa pesantren memiliki akar sejarah lebih panjang dibandingkan madrasah maupun perguruan tinggi Islam.

"Seharusnya pesantren menjadi bagian organik dari pendidikan tinggi keagamaan Islam. Karena secara historis, pesantren lahir terlebih dahulu, baru muncul madrasah pada awal abad 20 (sebagai respons terhadap sistem persekolahan yang diintrodusir penjajah Belanda), kemudian lahir perguruan tinggi Islam 1960-an," kata dia.

Menurut Mastuki, perkembangan sejarah tersebut menunjukkan bahwa pesantren memiliki kedudukan penting dalam pembentukan sistem pendidikan Islam di Indonesia.

Namun, ia menyayangkan kajian kepesantrenan di lingkungan UIN, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) masih terbatas.

Meskipun sejumlah UIN telah memiliki pusat studi kepesantrenan, aktivitas akademiknya dinilai belum sepenuhnya mampu menggali kekayaan tradisi, sejarah, dan keilmuan pesantren.

Karena itu, Mastuki berharap perguruan tinggi Islam lebih aktif mengambil inisiatif untuk membuka program studi kepesantrenan sebagai bagian dari pengembangan disiplin ilmu pendidikan Islam.

Pesantren Dinilai Memiliki Potensi Besar dalam Pendidikan dan Ekonomi

Selain memiliki kekayaan tradisi keilmuan, Mastuki menyoroti perkembangan pesantren modern yang kini tidak hanya berfokus pada pendidikan agama.

Menurutnya, banyak pesantren telah berkembang menjadi lembaga yang mengelola berbagai jenjang pendidikan sekaligus menjalankan kegiatan usaha produktif.

"Saat ini banyak pesantren seperti holding company yang menyelenggarakan berbagai aktivitas produktif. Lembaga pendidikan formal seperti madrasah, sekolah, diniyah, muadalah, ma'had aly dan universitas umum," ujarnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren memiliki cakupan kegiatan yang luas, mulai dari pendidikan formal, pendidikan keagamaan, hingga pengelolaan usaha yang mendukung kemandirian lembaga.

Mastuki mengungkapkan banyak pesantren telah berhasil membangun kemandirian finansial melalui pendirian dan pengelolaan berbagai unit bisnis.

Aktivitas ekonomi tersebut dinilai menjadi salah satu potensi penting pesantren dalam mendukung penguatan ekonomi kerakyatan dan kemandirian ekonomi umat.

Menurutnya, aspek ekonomi pesantren juga dapat menjadi objek kajian akademik karena berkaitan dengan pengelolaan lembaga pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan usaha produktif.

Dengan demikian, pembukaan program studi kepesantrenan diharapkan tidak hanya mengkaji sistem pendidikan agama, tetapi juga memperluas penelitian mengenai peran sosial dan ekonomi pesantren.

Kemenag Angkat Pemikiran Gus Dur tentang Pesantren sebagai Subkultur

Mastuki turut mengutip pemikiran Presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang memandang pesantren sebagai sebuah subkultur dengan karakteristik kehidupan tersendiri.

"Gus Dur menulis esai secara khusus bahwa pesantren itu sub-kultur. Suatu sistem kehidupan mandiri yang memiliki nilai, norma, tradisi, dan pola pergaulan khas yang berbeda dari budaya masyarakat luas (budaya dominan), namun tetap menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri," katanya.

Pandangan tersebut menggambarkan pesantren sebagai lembaga yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga membentuk sistem kehidupan sosial dengan nilai, norma, dan tradisi yang khas.

Meskipun memiliki karakteristik tersendiri, kehidupan pesantren tetap menjadi bagian dari dinamika sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Mastuki menilai kekayaan tersebut menjadi alasan penting bagi perguruan tinggi Islam untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan kajian kepesantrenan.

Melalui pembukaan program studi khusus, berbagai aspek kehidupan pesantren diharapkan dapat diteliti secara sistematis, mulai dari sejarah, tradisi keilmuan, sistem pendidikan, hingga pengelolaan ekonomi dan kehidupan sosial.

UIN dan PTKI Didorong Segera Inisiasi Prodi Kepesantrenan

Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag berharap UIN dan PTKI lainnya dapat memanfaatkan peluang pengembangan program studi kepesantrenan melalui penyusunan naskah akademik dan pengajuan penilaian pakar.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi pesantren sebagai objek kajian ilmiah yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Selain memperluas ruang penelitian, program studi kepesantrenan juga diharapkan mampu menggali berbagai model pengelolaan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi yang telah diterapkan pesantren.

Dengan pengembangan kajian yang lebih mendalam, Kemenag berharap sejarah panjang dan kekayaan tradisi pesantren mendapatkan perhatian lebih besar dalam sistem pendidikan tinggi keagamaan Islam.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026