Pantau Flash
HOME  ⁄  News

Harapan Tahun Baru Anak-Anak di Lebanon Selatan: Berdoa agar Langit Tetap Tenang

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Harapan Tahun Baru Anak-Anak di Lebanon Selatan: Berdoa agar Langit Tetap Tenang
Foto: (Sumber: Seorang anak yang terluka akibat serangan Israel mendapat perawatan di sebuah rumah sakit di Nabatieh, Lebanon selatan, pada 16 September 2025. (ANTARA/Xinhua/Ali Hashisho).)

Pantau - Tahun Baru bagi anak-anak di Lebanon selatan tidak dirayakan dengan kembang api, melainkan diiringi dengungan drone pengawasan dan bayang-bayang konflik yang terus membayangi kehidupan sehari-hari.

Situasi keamanan yang tidak menentu membuat aktivitas belajar di desa-desa perbatasan terganggu, karena murid-murid kesulitan berkonsentrasi di tengah ketegangan yang mereka rasakan setiap hari.

Doa di Ruang Kelas dan Lapangan Sekolah

Lina Nasr, murid Sekolah Al-Firdis, mengungkapkan bahwa ia kerap menutup mata saat pelajaran berlangsung dan berdoa agar langit tetap tenang.

Harapan tersebut ia sebut sebagai salah satu keinginan terpentingnya di Tahun Baru.

Di lapangan bermain Sekolah Kfarchouba, tawa anak-anak sering terhenti oleh dentuman tembakan artileri dari kejauhan.

Hassan Yahya, murid berusia 14 tahun di sekolah itu, mengatakan bahwa ia tidak lagi memimpikan mainan atau pakaian baru.

Ia memimpikan satu hal sederhana, yakni tahun di mana perjalanan ke sekolah tidak lagi dipenuhi rasa takut.

“Satu-satunya harapan Tahun Baru saya adalah agar perang ini berhenti, dan agar semua tempat yang biasa saya kunjungi menjadi aman kembali,” ungkap Hassan.

Luka Psikologis Anak-Anak di Tengah Konflik

Ibu Hassan, Sarah, mengatakan keluarganya terbiasa tidur dengan pakaian lengkap selama masa ketegangan agar siap menghadapi keadaan darurat kapan saja.

“Anak-anak kami tidak lagi bisa membedakan antara suara tembakan artileri dan guntur, dan mereka selalu waspada,” ujarnya.

Laporan bersama Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dan Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menyebutkan bahwa anak-anak di seluruh negeri mengalami luka psikologis dan fisik yang mendalam.

Paparan kekerasan dan pengungsian berulang menyebabkan kecemasan kronis, gangguan tidur, serta kesulitan konsentrasi yang parah.

Harapan yang Tertinggal di Masa Lalu

Saat tahun 2026 dimulai dan banyak orang menatap masa depan, harapan anak-anak seperti Hamad, Abdel-Rahim, dan Hassan justru bersifat retrospektif.

Harapan Tahun Baru mereka bukan tentang kemungkinan baru, melainkan tentang kepastian yang telah hilang.

Kepastian itu berupa bunyi bel sekolah, kehadiran seorang ayah, dan beberapa jam ketenangan di bawah langit yang sunyi.

Harapan tersebut digambarkan sebagai harapan yang tidak biasa dan sangat memilukan, mencerminkan harga mahal yang harus dibayar akibat konflik berkepanjangan yang kini semakin memberatkan kawasan tersebut.

Penulis :
Gerry Eka