
Pantau - Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) Angel Damayanti menegaskan bahwa gim daring bukan penyebab langsung radikalisasi, tetapi sejumlah fitur komunikasi dan interaksi di dalamnya berpotensi disalahgunakan kelompok ekstremis untuk menyebarkan propaganda serta merekrut anak dan remaja.
Angel menyampaikan penilaian tersebut melalui keterangan di Jakarta, Minggu (18/10/2026), sekaligus mengingatkan pentingnya pengawasan keluarga dan penguatan keamanan digital.
"Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda," kata Angel.
Menurutnya, ancaman radikalisasi muncul ketika kelompok tertentu memanfaatkan fasilitas komunikasi dalam permainan untuk membangun hubungan dengan calon anggota.
Fitur Gim Daring Berpotensi Dimanfaatkan untuk Rekrutmen
Angel menjelaskan bahwa interaksi sosial berulang dalam gim daring dapat membentuk ikatan emosional antarpemain.
Risiko penyalahgunaan juga dipengaruhi penggunaan identitas anonim serta kebebasan pemain dalam membuat skenario, simbol, dan konten permainan.
Peneliti Senior Pusat Studi Keamanan dan Hubungan Luar Negeri UKI itu menyebut pemanfaatan gim oleh kelompok radikal telah terdeteksi sejak dekade 1980-an.
Pada 2014, menurut Angel, kelompok ISIS mulai memanfaatkan permainan seperti Call of Duty untuk menarik perhatian publik dan menyebarkan propaganda.
Risiko tersebut semakin berkembang sejak 2020 ketika fitur penyesuaian permainan semakin memungkinkan pengguna membuat konten sendiri.
"Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen di mana anak-anak muda diarahkan dari platform gim menuju grup pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi yang lebih intensif," ungkapnya.
Angel menilai gim yang dapat diakses berbagai kelompok usia, menampilkan simulasi peperangan, dan memungkinkan pembuatan konten pengguna memiliki kerentanan lebih besar terhadap penyusupan.
Orang Tua Diminta Awasi Aktivitas Anak di Dunia Digital
Angel menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran paham ekstremisme melalui permainan daring.
Orang tua disarankan mengenali jenis permainan yang digunakan anak, menetapkan aturan penggunaan perangkat digital, dan mengaktifkan fitur keselamatan.
Komunikasi terbuka tanpa menghakimi juga diperlukan agar anak bersedia menceritakan pengalaman maupun interaksinya selama bermain.
Selain itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku yang muncul secara mendadak.
Perubahan tersebut dapat berupa kecenderungan mengisolasi diri, munculnya kebencian terhadap kelompok tertentu, atau keterlibatan dalam komunitas yang mengagungkan kekerasan.
Angel mengingatkan bahwa gim daring tetap memiliki manfaat sebagai ruang sosial dan teknologi sehingga tidak tepat dianggap sebagai ancaman secara keseluruhan.
BNPT, Kemkomdigi, dan Polri Didorong Perkuat Keamanan Digital
Angel meminta pemerintah memperkuat koordinasi lintas lembaga untuk mencegah penyalahgunaan gim daring oleh kelompok ekstremis.
Menurutnya, penanganan radikalisasi digital tidak cukup dilakukan melalui pemblokiran konten semata.
"Di samping itu, pendekatan Indonesia harus bergerak dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko. Tata kelola tersebut harus berlandaskan prinsip whole of government dan whole of society," ungkap Angel.
Ia mengusulkan Kementerian Komunikasi dan Digital melakukan penilaian risiko terhadap fitur komunikasi dalam gim daring.
Angel juga mendorong pembentukan mekanisme koordinasi antara BNPT, Kemkomdigi, dan Polri untuk menangani ancaman radikalisasi digital.
Pengembangan sistem deteksi dini berbasis teknologi dan analisis manusia turut dinilai penting untuk mengidentifikasi potensi penyalahgunaan platform permainan.
Selain itu, ia mengusulkan agar literasi gim dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pemerintah Perlu Gandeng Pengembang Gim Internasional
Angel menilai pencegahan radikalisasi digital membutuhkan dukungan penelitian dan kerja sama dengan penyedia permainan daring global.
BNPT bersama perguruan tinggi didorong menyusun basis data risiko yang terukur untuk mendukung kebijakan pencegahan.
Kerja sama internasional dengan pengembang gim juga diperlukan untuk memperkuat perlindungan pengguna, terutama anak dan remaja.
"Melalui kombinasi pencegahan di tingkat keluarga, literasi digital, dan regulasi yang kolaboratif, ekosistem gim daring di Indonesia dapat tetap aman serta terbebas dari bahaya intoleransi dan terorisme," ujar Angel.
- Penulis :
- Gerry Eka





