
Pantau - Perjalanan Nicolas Claveau-Laviolette di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 hampir terhenti karena paspor Venezuela miliknya kedaluwarsa kurang dari dua pekan sebelum pertandingan digelar di Tesero, Italia.
Paspor Kedaluwarsa dan Dukungan Pemerintah
Berdasarkan peraturan Olimpiade, setiap atlet wajib membawa paspor yang masih berlaku untuk dapat bertanding di ajang tersebut.
Layanan konsuler Venezuela di Kanada tidak beroperasi sepenuhnya akibat kendala diplomatik sehingga pembaruan paspor tidak dapat dilakukan di negara tempat ia berlatih.
Kurang dari dua pekan sebelum Olimpiade dimulai, Claveau-Laviolette terbang kembali ke Venezuela untuk mengurus dokumen baru.
Dalam waktu satu pekan, ia berhasil merampungkan pengurusan dokumen sekaligus menghadiri sejumlah acara media dan bertemu pejabat Komite Olimpiade Venezuela.
Presiden Komite Olimpiade Venezuela, Maria Soto, membantu mempercepat proses penerbitan paspor tersebut agar sang atlet dapat berangkat tepat waktu.
Ia mengenang pengalamannya dengan mengatakan, "Saya diperlakukan seperti raja."
Ia juga mengungkapkan, "Banyak sekali warga Venezuela yang menulis surat kepada saya, mengatakan mereka bangga dan ingin melihat saya berkompetisi. Itu benar-benar menyentuh hati saya."
Paspor Claveau-Laviolette akhirnya diterbitkan tepat sebelum Olimpiade dimulai sehingga ia dapat tampil sebagai satu-satunya wakil Venezuela.
Sejak Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano, hanya lima atlet Venezuela yang berhasil lolos kualifikasi, dan setelah Sochi 2014 negara itu sempat absen dalam dua edisi berikutnya.
Di Milan-Cortina 2026, ia tidak hanya menjadi satu-satunya perwakilan, tetapi juga bertugas sebagai pembawa bendera dalam upacara pembukaan.
Dalam upacara tersebut, ia mengibarkan bendera Venezuela berwarna kuning, biru, dan merah di malam musim dingin Italia utara.
Harapan untuk Masa Depan Ski Venezuela
Saat berdiri di garis start Olimpiade, ia membawa bukan hanya aspirasinya sendiri, tetapi juga harapan para pendukung dari Venezuela yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Setelah pertandingan pada Kamis 12 Februari, ia berbincang dengan Xinhua di bawah sinar matahari cerah Tesero sambil mengenakan atasan tanpa lengan.
Ketika ditanya apakah dirinya merasa kedinginan, ia menjawab, "Jangan khawatir, saya sama sekali tidak kedinginan. Sinar matahari yang hangat membuat saya merasa seperti kembali ke Venezuela."
Bagi Claveau-Laviolette, ukuran kesuksesan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh peringkat akhir yang diraih.
Ia menyampaikan harapannya, "Saya berharap dalam empat tahun ke depan, Venezuela setidaknya bisa memiliki satu, mungkin dua atau tiga atlet di Olimpiade Musim Dingin."
Ia menambahkan, "Jika partisipasi saya membuat jalan menuju tujuan tersebut sedikit lebih mudah, itu akan sangat berarti."
Berbeda dengan banyak atlet profesional penuh waktu, ia masih berstatus mahasiswa jurusan teknik sipil yang harus kembali ke kampus untuk mempersiapkan ujian tengah semester setelah Olimpiade selesai.
Ke depan, ia berharap dapat kembali mewakili Venezuela di Kejuaraan Dunia Ski Nordik tahun depan di Falun, Swedia, sambil terus meningkatkan prestasinya di cabang ski lintas alam.
Bagi negara tanpa salju seperti Venezuela, pencapaiannya mungkin tampak mustahil, namun dengan tampil dan meninggalkan jejak di lintasan Olimpiade ia membuktikan bahwa bagi sebagian negara dapat ikut bertanding saja sudah merupakan sebuah kemenangan.
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Tria Dianti








