HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Kecepatan Informasi di Media Sosial Dinilai Kalahkan Verifikasi Fakta

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kecepatan Informasi di Media Sosial Dinilai Kalahkan Verifikasi Fakta
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Konsep Kerja Media Jurnalistik. ANTARA/Shutterstock/aa.)

Pantau - Fenomena cepatnya penyebaran informasi di media sosial dinilai telah mengalahkan proses verifikasi fakta jurnalistik, terutama dalam peliputan peristiwa besar dan situasi darurat di era digital.

Tulisan telaah yang disampaikan Andre Finaka mengungkap peristiwa tabrakan Kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menjadi contoh bagaimana video, foto, dan kesaksian penumpang langsung menyebar luas dalam hitungan menit sebelum media arus utama menerbitkan laporan lengkap.

Ia menjelaskan pola penyebaran informasi kini berubah drastis karena publik lebih dahulu menerima informasi mentah dari media sosial dibanding laporan yang telah melalui proses verifikasi jurnalistik.

Media Sosial Jadi Sumber Informasi Pertama

Andre menyebut fenomena citizen journalism membuat masyarakat menjadi pelapor pertama di lokasi kejadian melalui unggahan video maupun foto.

Namun, ia menilai kondisi tersebut juga memunculkan risiko besar karena banyak informasi beredar tanpa konteks dan verifikasi yang memadai.

“Namun ada batas yang sering dilupakan: melihat bukan berarti memahami, merekam bukan berarti menjelaskan, dan mengunggah bukan berarti bertanggung jawab,” tulisnya.

Menurut Andre, di jam-jam awal setelah kecelakaan Bekasi Timur, berbagai informasi simpang siur bermunculan mulai dari jumlah korban, dugaan penyebab kecelakaan, hingga tudingan terhadap pihak tertentu sebelum ada klarifikasi resmi.

Ia menilai kondisi serupa juga pernah terjadi dalam tragedi Kanjuruhan, jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, hingga gempa Cianjur.

Algoritma Dinilai Utamakan Emosi Ketimbang Akurasi

Andre menilai platform digital bekerja berdasarkan engagement dan perhatian pengguna, bukan akurasi informasi.

Konten yang emosional dan sensasional disebut lebih mudah viral dibanding laporan yang berhati-hati dan berbasis data.

“Di media sosial, orang cenderung membagikan sesuatu bukan karena telah memverifikasi kebenarannya, tetapi karena merasa tersentuh secara emosional,” ungkapnya.

Ia menambahkan budaya “share dulu, cek belakangan” kini semakin menguat di tengah masyarakat digital.

Andre menegaskan jurnalisme tetap memiliki peran penting karena dibangun di atas prinsip verifikasi, akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab publik.

“Karena yang dibutuhkan masyarakat bukanlah informasi yang pertama datang, melainkan informasi yang tetap benar ketika semuanya sudah reda,” tulisnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf