
Pantau - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI di Indonesia disebut semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari media sosial hingga pekerjaan administratif dan pendidikan.
AI kini digunakan dalam berbagai aktivitas modern seperti algoritma media sosial, asisten virtual, generator teks otomatis, hingga generator gambar otomatis.
Mayoritas masyarakat Indonesia dinilai terbuka dan adaptif terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna internet aktif.
Laporan We Are Social juga menyebut pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 180 juta orang atau setara 62,9 persen populasi.
Lebih dari sepertiga warganet Indonesia disebut rutin menggunakan platform AI seperti DeepSeek, Google Gemini, dan ChatGPT setiap bulan.
Penggunaan AI kini tidak hanya dilakukan perusahaan besar, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai usia dan profesi.
AI Dipakai untuk Konten hingga Pekerjaan Kantor
Arief (47), seorang karyawan swasta di Bogor, mengaku menggunakan AI untuk membuat takarir media sosial dan mencari ide konten.
“Awalnya saya sempat minder melihat posting-an anak-anak muda yang kreatif sekali. Tapi, sejak tahu ada aplikasi AI untuk membuat tulisan, saya tinggal ketik poin-poin yang saya mau, dan tring! Keluar draf takarir (caption) yang rapi, lengkap dengan tagarnya,” ungkap Arief.
Menurutnya, AI membantu menghemat waktu berpikir, membuat konten lebih menarik, dan menjaga interaksi sosial di media digital.
Sementara itu, Laela (45), seorang karyawan administratif universitas swasta di Jakarta, memanfaatkan AI untuk membalas email resmi dan menyusun laporan bulanan.
“Dulu, membalas email resmi dari pimpinan, dosen, atau pihak luar itu bisa memakan waktu seharian karena harus menyusun kalimat formal yang tepat. Sekarang, saya pakai AI untuk membuat draf balasan atau menyusun laporan bulanan. Tugas administratif yang tadinya menumpuk berjam-jam, kini selesai dalam hitungan menit,” kata Laela.
Laela menilai AI menjadi asisten pribadi gratis yang membuatnya lebih fokus pada tugas strategis.
Mahasiswa geologi di Bogor bernama Alka (21) juga menggunakan AI untuk brainstorming tugas kuliah dan merangkum materi asing.
“Saya tidak menyuruh AI untuk langsung membuatkan tugas jadi, ya. Itu namanya curang. Saya menggunakannya sebagai teman diskusi atau brainstorming. Kalau saya mentok cari ide atau bingung merangkum materi berbahasa asing yang rumit, saya minta bantuan AI untuk membedah poin-poin pentingnya,” ujar Alka.
Pakar UGM Soroti Risiko Utang Kognitif
Artikel tersebut menyebut penggunaan AI memberikan sejumlah dampak positif seperti meningkatkan produktivitas, menghemat waktu operasional, membantu mengatasi keterbatasan bahasa, dan membuka ruang kreativitas baru.
Namun, terdapat pula risiko negatif seperti penyebaran hoaks berbasis deepfake, artikel manipulatif buatan mesin, penurunan kemampuan berpikir kritis, hingga ketergantungan berlebihan terhadap AI.
Akademisi Fakultas Psikologi UGM Buldan Thontowi S.Psi., M.A., Ph.D mengatakan penggunaan AI untuk tugas kognitif dapat berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir manusia.
“Dalam eksperimen, kelompok yang menggunakan AI untuk menulis esai ternyata paling lemah saat menjelaskan esai mereka dibandingkan dengan kelompok yang menulis secara mandiri,” ungkap Buldan.
Ia menyebut kondisi tersebut dapat menciptakan “utang kognitif.”
Menurut Buldan, terlalu sering menggunakan AI tanpa melatih kemampuan berpikir dapat membuat manusia kehilangan daya pikir kritis.
Buldan juga menyoroti persoalan bias budaya dalam AI karena sebagian besar data berasal dari referensi Barat.
“Data AI berasal dari sumber tertentu, sering kali Barat, sehingga ketika orang dari negara Muslim atau Indonesia bertanya tentang hubungan atau masalah seksual, AI mungkin menggunakan referensi Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai setempat,” katanya.
Ia menilai kelompok paling rentan terdampak negatif AI adalah remaja dengan harga diri rendah yang mudah menerima informasi tanpa sikap kritis.
“Kelompok yang paling rentan adalah remaja dengan harga diri rendah yang mudah menerima informasi tanpa sikap kritis,” ujar Buldan.
Menurutnya, literasi digital menjadi faktor penting untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif AI.
“Jika anak muda memiliki sikap kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh AI dan menyadari bahwa respons AI berasal dari model bahasa besar yang mungkin tidak mencerminkan masyarakat mereka, mereka akan lebih terlindungi,” kata Buldan.
Artikel tersebut menekankan perkembangan AI di Indonesia perlu diimbangi dengan literasi digital, regulasi pemerintah yang bijak, serta kesadaran etika pengguna.
“Secara umum, penggunaan AI yang sehat bagi individu tentu yang dapat mendongkrak produktivitas dan bukan sebaliknya, juga tidak sampai mengganggu aspek hubungan sosial,” tutup Buldan.
- Penulis :
- Gerry Eka





