
Pantau - Tim peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China mengungkap karakteristik suara paus sperma di Laut China Selatan yang digunakan sebagai sarana komunikasi sosial dan menunjukkan adanya dialek yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Penelitian Tujuh Tahun Ungkap Pola Komunikasi Paus
Penelitian yang dipimpin Li Songhai dari Institut Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa Laut Dalam berlangsung selama 2019 hingga 2025 melalui delapan ekspedisi di Laut China Selatan.
Selama penelitian tersebut, tim mencatat 13 penampakan paus sperma dan mengumpulkan lebih dari 1.200 menit data akustik.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the Acoustical Society of America menunjukkan paus sperma menggunakan bunyi klik pendek yang disusun menjadi rangkaian ritmis atau coda sebagai sarana interaksi sosial.
Setiap kelompok paus sperma memiliki pola coda yang berbeda sehingga membentuk dialek layaknya bahasa daerah pada manusia.
Anak paus sperma mempelajari pola suara tersebut melalui fase "mengoceh" hingga mampu menguasai dialek kelompoknya.
Li mengatakan, "ketika paus sperma menghasilkan bunyi klik khas dari kepalanya, suara itu memantul beberapa kali dari berbagai struktur internal, sehingga menciptakan serangkaian pulsa."
Ia mengungkapkan, "panjang pulsa tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan panjang tubuh paus."
Dukung Upaya Konservasi Paus Sperma
Penelitian juga menemukan sebagian besar paus sperma yang teramati di Laut China Selatan merupakan paus betina dan paus muda, sehingga kawasan perairan tropis tersebut diduga menjadi lokasi penting untuk pembesaran anak.
Para peneliti menemukan dialek paus sperma di Laut China Selatan memiliki kemiripan dengan populasi di Kepulauan Galápagos, Peru, Chile, Tonga, dan Papua Nugini yang mengindikasikan adanya migrasi dari Samudra Pasifik sejak lama.
Paus sperma saat ini berstatus Rentan dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Data akustik yang diperoleh dari penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung upaya konservasi paus sperma yang menghadapi ancaman akibat tabrakan kapal, alat tangkap ikan, dan kebisingan bawah laut.
- Penulis :
- Aditya Yohan





