HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Warga Lansia di China Manfaatkan Gim untuk Pererat Hubungan Sosial dan Tingkatkan Literasi Digital

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Warga Lansia di China Manfaatkan Gim untuk Pererat Hubungan Sosial dan Tingkatkan Literasi Digital
Foto: (Sumber :Warga lansia di China main gim untuk pererat hubungan sosial.)

Pantau - Warga lanjut usia di China mulai memanfaatkan gim online sebagai sarana mempererat hubungan sosial, meningkatkan literasi digital, serta membangun kedekatan dengan generasi muda melalui berbagai program komunitas yang dikembangkan di sejumlah kota.

Gim Jadi Sarana Belajar dan Dekat dengan Keluarga

Zhou Zhihong, perempuan berusia 67 tahun dari Hangzhou, rutin bermain gim Naraka: Bladepoint bersama cucu perempuannya yang berusia 14 tahun.

Zhou mengaku kini mampu memimpin tim lansia dalam permainan tersebut setelah mengasah kemampuannya.

Program kelas e-sport untuk warga berusia 55 tahun ke atas yang dibuka di Hangzhou sejak November 2024 menarik hampir 150 pendaftar hanya dalam tiga hari.

Sebagian peserta mengikuti kelas untuk memahami ketertarikan generasi muda terhadap gim.

Sebagian lainnya ingin memiliki topik pembicaraan baru dengan anak dan cucu mereka.

Li Aixia dan suaminya Li Zhongli juga mengikuti program tersebut hingga kini rutin berlatih bersama rekan satu tim dan berdiskusi strategi permainan dengan putra mereka.

Program Tekankan Literasi Digital dan Batas Bermain

Hingga kini lembaga pendidikan komunitas di Hangzhou telah membina lebih dari 300 peserta dan melatih delapan instruktur lokal.

Model serupa juga dikembangkan di Chengdu melalui tim e-sport lansia yang memainkan League of Legends dengan pendampingan pengajar dan mahasiswa.

Penyelenggara menegaskan program tersebut tidak bertujuan mencetak pemain profesional ataupun mendorong bermain gim secara berlebihan.

Direktur pusat pelatihan lembaga pendidikan komunitas Binjiang Ye Jianwei mengungkapkan, “Kursus itu dirancang bukan untuk melatih pemain gim tingkat tinggi atau mendorong bermain gim dalam waktu yang lama, melainkan menggunakan e-sport sebagai sarana untuk literasi digital.”

Selama pelatihan, peserta dibatasi waktu bermain dan diberikan edukasi mengenai keamanan transaksi digital, risiko penipuan, serta pentingnya istirahat untuk menjaga kesehatan mata, leher, dan jari.

Bagi Zhou, manfaat terbesar dari program tersebut adalah hubungan yang semakin dekat dengan cucunya.

Ia mengungkapkan, “Setelah selesai mengerjakan PR, dia kadang-kadang meringkuk di samping saya dan berkata, 'Nenek, satu ronde lagi, ya?'”

Ia menambahkan, “Saya senang bisa membantunya bersantai dengan cara seperti ini.”

Penulis :
Ahmad Yusuf