
Pantau - Riset nasional Indonesia memperoleh tambahan modal setelah Presiden Prabowo Subianto memutuskan menambah anggaran riset sebesar Rp4 triliun untuk memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hilirisasi inovasi ke sektor industri.
Keputusan penambahan anggaran tersebut dibuat dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di Jakarta Convention Center pada 28 Juni 2026.
Tambahan Rp4 triliun tersebut hampir menggandakan anggaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) apabila dibandingkan dengan titik terendah anggaran setelah kebijakan efisiensi pada 2025.
Lebih dari 150 Periset Temui Prabowo di Istana
Momentum berikutnya terjadi pada 6 Agustus 2026 ketika untuk pertama kalinya lebih dari 150 periset BRIN bertemu langsung dengan Presiden Prabowo di halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta.
Para periset dari berbagai wilayah Indonesia diundang membawa dan memamerkan hasil penelitian serta inovasi mereka di hadapan Presiden.
Lebih dari 150 produk diperlihatkan dalam 12 klaster yang mencakup energi, pangan, kesehatan, kedirgantaraan, maritim, lingkungan, material maju, digital dan kecerdasan buatan, transportasi, pertahanan, sosial-humaniora, serta produk konsumsi murah.
Produk yang dipamerkan antara lain teknologi nuklir, teknologi penyediaan air siap minum, genteng inovatif, hingga rancang bangun pesawat.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan pertama bagi BRIN untuk memperlihatkan secara utuh hasil konsolidasi lembaga riset pemerintah di hadapan Presiden.
BRIN berdiri pada 2021 melalui peleburan sejumlah lembaga penelitian pemerintah, yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Konsolidasi itu dirancang untuk menyatukan sumber daya penelitian pemerintah yang sebelumnya tersebar di puluhan kementerian dan lembaga sekaligus mengurangi duplikasi program penelitian.
Anggaran Riset Indonesia Masih Tertinggal
Selama bertahun-tahun, belanja penelitian Indonesia berada pada kisaran 0,28 hingga 0,3 persen dari produk domestik bruto (PDB), atau sekitar Rp5 triliun sampai Rp7 triliun per tahun.
Anggaran penelitian bahkan sempat turun mendekati Rp3 triliun hingga Rp4 triliun sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran pada 2025.
Porsi tersebut masih berada di bawah sejumlah negara lain, dengan Malaysia mengalokasikan sekitar 1,15 persen PDB, China sekitar 2,1 hingga 2,5 persen, Jepang sekitar 3,65 persen, dan Korea Selatan lebih dari 4 persen.
Kepala BRIN periode 2021–2025 Laksana Tri Handoko sebelumnya menyampaikan bahwa porsi ideal anggaran penelitian bagi negara dengan ukuran ekonomi seperti Indonesia berada di sekitar 1 persen PDB.
Besaran 1 persen PDB tersebut setara dengan anggaran penelitian hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Tambahan anggaran Rp4 triliun menjadi sinyal adanya respons kebijakan fiskal terhadap persoalan pendanaan yang selama ini menjadi salah satu perhatian komunitas ilmiah.
BRIN Arahkan Dana ke UMKM dan Industri
BRIN memetakan pemanfaatan tambahan anggaran melalui tiga jalur utama untuk memperkuat keterhubungan antara penelitian, produksi, dan investasi.
Jalur pertama diarahkan untuk memperkuat inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Jalur kedua ditujukan meningkatkan daya saing industri nasional melalui kerja sama dengan Danantara sebagai holding investasi strategis milik negara.
Jalur ketiga digunakan untuk memfasilitasi kolaborasi teknologi maju dengan berbagai mitra dunia.
Pendekatan tersebut menempatkan penelitian tidak hanya sebagai aktivitas akademik, tetapi juga sebagai bagian dari rantai produksi dan investasi nasional.
Kerja sama BRIN dan Danantara telah mencakup penelitian bersama dalam bidang baterai, transportasi, galangan kapal, pangan, serta ekosistem kendaraan listrik.
Danantara mencatat realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp300,1 triliun sepanjang semester pertama 2026 atau 29,7 persen dari keseluruhan investasi nasional yang mencapai Rp1.010,6 triliun pada periode yang sama.
Sebagian investasi hilirisasi tersebut diwujudkan melalui kerja sama pengembangan material maju yang melibatkan MIND ID, Len Industri, Krakatau Steel, dan Perusahaan Mineral Nasional.
BRIN turut terlibat secara langsung dalam proses alih teknologi pada kolaborasi tersebut.
Pendekatan serupa dijalankan melalui forum BRIN Goes To Industry yang secara rutin mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan sektor industri tertentu, termasuk pertambangan.
Di lingkungan akademik, BRIN juga memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi, salah satunya melalui dialog strategis bersama Universitas Brawijaya mengenai peranan perguruan tinggi dalam ekosistem penelitian nasional.
Hilirisasi Jadi Ukuran Keberhasilan
Berbagai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa arahan mengenai hilirisasi penelitian memperkuat tren kerja sama lembaga penelitian dengan industri yang telah berjalan sepanjang 2026.
Pertemuan periset dengan Presiden pada 6 Agustus 2026 menjadi titik konsolidasi antara dukungan politik pada tingkat tertinggi dan mekanisme kelembagaan yang telah berjalan melalui BRIN, Danantara, serta mitra industri.
Kombinasi dukungan politik, anggaran, lembaga penelitian, investasi, dan industri menjadi unsur penting untuk mengatasi persoalan lama berupa keterbatasan pendanaan serta ketidakpastian penyerapan hasil penelitian oleh pasar.
Keberhasilan kebijakan tersebut selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya tambahan anggaran, tetapi juga jumlah inovasi yang dapat digunakan oleh UMKM, BUMN strategis, dan industri nasional.
BRIN telah memiliki sejumlah instrumen hilirisasi berupa lisensi teknologi, penelitian bersama, serta pendampingan perusahaan rintisan berbasis penelitian yang dapat diperluas seiring tambahan anggaran.
Presiden Prabowo dalam sambutannya di hadapan para periset menekankan bahwa negara yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang lebih cepat dibandingkan negara yang hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam.
Presiden juga menghubungkan pengembangan penelitian dan teknologi dengan target Indonesia Emas 2045, ketika bonus demografi diharapkan dapat menjadi kekuatan ekonomi berbasis inovasi.
Hilirisasi penelitian ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendorong Indonesia menjadi bangsa pencipta teknologi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk teknologi impor.
Tambahan anggaran Rp4 triliun, penguatan kerja sama BRIN dengan industri, keterlibatan Danantara, dan berbagai jalur kolaborasi menjadi modal dalam upaya membangun ekonomi nasional berbasis penelitian, inovasi, dan teknologi.
- Penulis :
- Shila Glorya



