HOME  ⁄  Teknologi & Sains

UPNVJ Terapkan Irigasi Cerdas Berbasis IoT dan Tenaga Surya untuk Pertanian Berkelanjutan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

UPNVJ Terapkan Irigasi Cerdas Berbasis IoT dan Tenaga Surya untuk Pertanian Berkelanjutan
Foto: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) saat melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang mengusung program "Smart Irrigation for SMK: Penerapan Sistem Irigasi Cerdas Berbasis IoT sebagai Media Pembelajaran dan Teaching Factory Pertanian Berkelanjutan" di SMKN 1 Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026).

UPNVJ Terapkan Irigasi Cerdas Berbasis IoT dan Tenaga Surya untuk Pertanian Berkelanjutan

Pantau - Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) mendorong penerapan teknologi pertanian berkelanjutan melalui sistem irigasi cerdas berbasis Internet of Things (IoT) dan tenaga surya di SMK Negeri 1 Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Program bertajuk Smart Irrigation for SMK: Penerapan Sistem Irigasi Cerdas Berbasis IoT sebagai Media Pembelajaran dan Teaching Factory Pertanian Berkelanjutan tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Kamis (20/8/2026).

Ketua tim pelaksana Mohammad Rachman Waluyo mengatakan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi, tetapi juga menjadi sarana bagi siswa untuk mempelajari teknologi pertanian secara langsung.

"Melalui program Smart Irrigation System ini, kami ingin menghadirkan sebuah teknologi yang tidak hanya dapat membantu proses pengelolaan irigasi menjadi lebih terukur, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa. Mereka tidak hanya mempelajari konsep Internet of Things dan energi terbarukan secara teori, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam pengoperasian dan pemeliharaan teknologi tersebut," ujarnya.

Irigasi Konvensional Butuh 10 Jam dan 10 Liter Solar

Sebelum teknologi irigasi cerdas diterapkan, lahan Teaching Factory SMK Negeri 1 Ciasem masih menggunakan sistem irigasi konvensional dengan pompa diesel dan metode penggenangan.

Proses penyiraman lahan seluas satu hektare dengan sistem tersebut dapat membutuhkan waktu hingga 10 jam dalam sekali penyiraman.

Pengoperasian pompa juga membutuhkan sekitar 10 liter bahan bakar solar setiap kali proses penyiraman dilakukan.

Pengelolaan air yang belum terukur turut berpotensi membuat tanaman mengalami kelebihan atau kekurangan air sehingga diperlukan teknologi yang dapat menyesuaikan penyiraman dengan kondisi kelembapan tanah.

UPNVJ kemudian menghadirkan Smart Irrigation System yang mengintegrasikan sensor kelembapan tanah dan lingkungan, mikrokontroler ESP32, relay, pompa air, katup selenoida, jaringan perpipaan, serta pembangkit listrik tenaga surya.

Sistem bekerja dengan membaca kondisi lingkungan menggunakan sensor sebelum data diproses ESP32 untuk menentukan kebutuhan penyiraman.

Pompa dan katup selenoida dapat diaktifkan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sedangkan data sistem bisa dipantau melalui dashboard yang juga digunakan dalam proses pembelajaran.

Tenaga Surya Dukung Pembelajaran Pertanian Modern

Sistem pembangkit listrik tenaga surya off-grid digunakan sebagai sumber energi untuk mendukung pengoperasian perangkat irigasi.

"Penerapan teknologi ini tidak hanya mengintegrasikan otomasi dan sistem sensor, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan dalam kegiatan pertanian," kata Rachman.

Teknologi tersebut memungkinkan siswa mempelajari keterkaitan teknologi internet, sistem otomasi, pengelolaan air, dan energi surya melalui praktik langsung.

Program yang memperoleh Pembiayaan BIMA Kemendiktisaintek Tahun 2026 itu juga diarahkan untuk memperkuat pembelajaran vokasi berbasis praktik melalui pengembangan Teaching Factory.

"Kami berharap Smart Irrigation System ini dapat terus dimanfaatkan sebagai bagian dari Teaching Factory. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia industri, khususnya dalam perkembangan smart farming dan pertanian berbasis teknologi," kata Rachman.

Perangkat tersebut turut dilengkapi modul pembelajaran dan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai panduan bagi guru serta siswa untuk mengoperasikan, merawat, dan melakukan penanganan awal terhadap sistem.

Program selanjutnya akan dilanjutkan melalui pendampingan dan pemantauan berkala terhadap sensor, ESP32, pompa, katup, jaringan perpipaan, PLTS, serta dashboard agar teknologi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Penulis :
Gerry Eka