HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Digitalisasi Manuskrip Al Quran Berusia 180 Tahun Menjaga Warisan Keilmuan Islam Aceh

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Digitalisasi Manuskrip Al Quran Berusia 180 Tahun Menjaga Warisan Keilmuan Islam Aceh
Foto: (Sumber :Manuskrip Al Quran yang diperkirakan berusia sekitar 180 tahun dari Aceh. ANTARA/HO-Humas UIN Ar Raniry.)

Pantau - Manuskrip Al Quran peninggalan ulama Aceh Teungku Chik Lampaloh yang diperkirakan berusia sekitar 180 tahun mulai didigitalisasi untuk menjaga kondisi naskah sekaligus melestarikan pengetahuan dan tradisi keilmuan Islam yang tersimpan di dalamnya.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Nurrahmi mengatakan proses tersebut diperlukan karena kondisi fisik manuskrip mulai mengalami kerusakan, sejumlah halaman telah rapuh, dan tulisan pada beberapa bagian mulai memudar.

“Digitalisasi bukan hanya mengubah manuskrip menjadi bentuk digital, tetapi juga menjadi upaya menjaga pengetahuan yang terkandung didalamnya agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan,” kata Nurrahmi.

Manuskrip tulisan tangan tersebut merupakan peninggalan Teungku Chik Lampaloh atau Syekh Abdurrahman Lampaloh yang selain memuat teks Al Quran juga berisi berbagai catatan mengenai pengetahuan dan tradisi keilmuan Islam pada masanya.

Digitalisasi manuskrip menjadi bagian dari penelitian Nurrahmi berjudul From Manuscript to Digital Heritage: Preserving Nusantara Islamic Knowledge through the Digitalization of the Teungku Chik Lampaloh Manuscript (The Descendants Effort in Safeguarding Ancestor Master Piece.

Penelitian tersebut dipresentasikan dalam 10th International Library and Information Science Society Conference (I-LISS) 2026 di Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, pada 26-28 Agustus 2026.

Penelitian itu dikerjakan bersama Prof Mujiburrahman, Prof Syamsul Rijal, Dr Zubaidah, dan Fathin Zhafira Fauzi ST.

Proses digitalisasi menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tiga tahapan berupa pra-digitalisasi, digitalisasi, dan pasca-digitalisasi.

Digitalisasi diharapkan mengurangi kebutuhan untuk menangani manuskrip asli secara langsung sehingga informasi di dalamnya tetap dapat diakses dan dipelajari tanpa berulang kali membuka serta memegang dokumen yang mulai rapuh.

Penelitian tersebut juga menawarkan kerangka kerja yang menggabungkan pelestarian, pengelolaan metadata, dan penyebaran pengetahuan untuk diterapkan oleh perpustakaan, arsip, museum, maupun lembaga pengelola warisan budaya.

Manuskrip Teungku Chik Lampaloh sebelumnya juga menjadi objek kajian tim peneliti UIN Ar-Raniry dan Al-Azhar University yang menelusuri bagian parateks seperti catatan pinggir, kolofon, anotasi, serta keterangan lainnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026