
Pantau - Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana menekankan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) harus tetap menjunjung martabat manusia serta diimbangi kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Yuda menilai perkembangan AI tidak hanya menjadi kemajuan teknologi, tetapi juga membawa perubahan terhadap cara manusia memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, bekerja, hingga menentukan pilihan.
“Dampak teknologi harus kembali kepada satu pusat: martabat manusia. AI harus membuat kita lebih mampu, bukan lebih tergantung. Media harus membuat lebih tercerahkan, bukan lebih mudah dimanipulasi,” kata Yuda dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
AI Dinilai Mulai Memengaruhi Cara Manusia Bekerja
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya Prof. Rosdiana Sijabat mengatakan AI telah berkembang dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari logika sosial yang turut memengaruhi cara manusia bekerja dan berinteraksi dengan informasi.
Menurut Rosdiana, perubahan tersebut berlangsung melalui proses datafikasi, kurasi algoritmik, produksi generatif, serta adaptasi institusi terhadap logika platform.
AI dalam kondisi tersebut tidak hanya memproses informasi, tetapi juga dapat memengaruhi informasi yang dilihat pengguna, membentuk preferensi, serta memengaruhi pilihan dan keputusan.
“Mediasi berarti AI membantu kita bekerja. Mediatisasi berarti kita mulai bekerja menurut logika AI,” katanya.
Perguruan Tinggi Diminta Bentuk Pengguna Teknologi yang Kritis
Ketua Dewan Profesor Unika Atma Jaya Prof. Laura F. N. Sudarnoto mengatakan perkembangan AI perlu menjadi ruang refleksi bersama bagi perguruan tinggi.
Menurut Laura, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab membentuk manusia yang mampu memanfaatkan pengetahuan dan teknologi secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.
“AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga dipertimbangkan dampaknya pada kehidupan manusia, komunikasi, etika, masyarakat, bahkan kemanusiaan,” ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




