
Pantau - China berhasil menguji jaringan internet satelit buatan dalam negeri yang menghubungkan kawasan Arktika, Antarktika, dan Dataran Tinggi Qinghai-Xizang untuk pertama kalinya melalui ekspedisi ilmiah menggunakan kapal pemecah es Jidi.
Tim Ekspedisi Samudra Arktika ke-16 China mengumumkan keberhasilan tersebut pada Senin (19/10/2026), setelah menyelesaikan uji praoperasional internet satelit di sepanjang rute pelayaran Arktika.
Menurut tim ekspedisi, pengujian itu menjadi verifikasi pertama komunikasi jaringan yang menghubungkan tiga kawasan ekstrem Bumi, termasuk Dataran Tinggi Qinghai-Xizang yang dikenal sebagai Kutub Ketiga.
Sistem tersebut diklaim mampu menyediakan komunikasi berkecepatan tinggi dengan latensi rendah meskipun beroperasi dalam kondisi lingkungan yang sulit.
Kapal Jidi Uji Komunikasi Video Lintas Kawasan Kutub
Ekspedisi yang diselenggarakan Kementerian Sumber Daya Alam China dimulai pada 3 Juli 2026.
Kapal pemecah es Jidi menjadi salah satu dari empat kapal penelitian yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Nama Jidi dalam bahasa Mandarin memiliki arti kawasan kutub.
Dalam pengujian, tim ekspedisi menghubungkan kapal Jidi di Arktika dengan Stasiun Qinling di Antarktika, stasiun uji Sungai Lhasa di Daerah Otonom Xizang, serta kantor kementerian di Qingdao, China bagian timur.
Tim ekspedisi melaporkan komunikasi suara dan video antara lokasi-lokasi tersebut berlangsung jernih dan lancar.
Pengujian juga dilakukan untuk mengetahui kestabilan jaringan dalam menghadapi suhu sangat rendah, badai pasir, dan kabut es.
Hasil uji tersebut dinilai menunjukkan kemampuan internet satelit China dalam mendukung komunikasi di kawasan yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional.
Internet Satelit Digunakan untuk Konsultasi Medis di Kutub
Selain menghubungkan lokasi penelitian, kapal Jidi memanfaatkan internet satelit untuk mendukung layanan kesehatan selama ekspedisi.
Tim ekspedisi menyebut kegiatan tersebut sebagai penggunaan pertama internet satelit domestik China untuk dukungan medis di kawasan kutub.
Melalui jaringan tersebut, awak kapal dapat melakukan konsultasi video beresolusi tinggi dengan rumah sakit dan tenaga ahli medis di Qingdao.
Komunikasi antara kapal dan fasilitas kesehatan di daratan memungkinkan kondisi kesehatan anggota ekspedisi dinilai tanpa harus menunggu kapal kembali ke pelabuhan.
Penggunaan layanan medis jarak jauh itu menjadi salah satu hasil pengujian teknologi komunikasi selama pelayaran.
Kapal Jidi Kirim Lebih dari 100 Gigabita Data
Anggota ekspedisi sekaligus penguji lapangan, Zhang Meng, mengatakan jaringan internet satelit telah digunakan untuk mengirimkan berbagai data penelitian.
Selama pelayaran, kapal Jidi mengirim dan menerima lebih dari 300 berkas dengan total ukuran data melebihi 100 gigabita.
Jaringan tersebut juga mendukung lebih dari 40 sesi konsultasi video.
"Uji komunikasi ini telah membantu mengatasi isolasi informasi, yang menjadi tantangan dalam ekspedisi kutub, serta memverifikasi dukungan komunikasi sepanjang pelayaran berbasis internet satelit China ," ujar Zhang.
Menurut Zhang, hasil tersebut menunjukkan kemampuan jaringan dalam menjaga komunikasi selama kegiatan penelitian di kawasan kutub.
Pelampung Zhigan Jadi Alternatif Transmisi Data Kelautan
Ekspedisi tersebut juga menguji pelampung laut buatan China bernama Zhigan.
Perangkat itu memungkinkan peralatan survei China melakukan pengumpulan dan transmisi data secara mandiri.
Menurut tim ekspedisi, pengujian Zhigan menjadi pencapaian pertama bagi sistem survei domestik China dalam mengendalikan keseluruhan proses pengumpulan hingga pengiriman data.
Kecepatan dan kualitas transmisi perangkat tersebut dilaporkan telah memenuhi persyaratan penggunaan praktis selama pengujian.
Dengan hasil itu, Zhigan dinilai berpotensi menjadi alternatif penggunaan satelit internasional yang selama ini dimanfaatkan untuk mengirimkan data penginderaan samudra secara waktu nyata.
Keberhasilan pengujian internet satelit dan pelampung Zhigan menjadi bagian dari pengembangan teknologi China untuk mendukung penelitian ilmiah serta komunikasi di kawasan terpencil.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




