HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BRIN Temukan Sembilan Jenis Mangrove di Aceh Berpotensi Jadi Tanaman Obat, Bisa Dikembangkan untuk Kesehatan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

BRIN Temukan Sembilan Jenis Mangrove di Aceh Berpotensi Jadi Tanaman Obat, Bisa Dikembangkan untuk Kesehatan
Foto: Relawan bersama anak-anak menanam pohon mangrove pada pelaksanaan Gerakan Peduli Lingkungan di daerah pesisir Pantai Asoe Nanggroe, Banda Aceh, Aceh, Minggu 19/7/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan sembilan jenis tumbuhan mangrove asal Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, berpotensi dimanfaatkan sebagai tanaman obat karena memiliki kandungan senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan melalui penelitian kesehatan.

Peneliti BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa sembilan jenis tumbuhan tersebut terdiri atas tujuh jenis mangrove sejati dan dua jenis tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.

Temuan tersebut menunjukkan potensi keanekaragaman hayati kawasan mangrove di Aceh sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan penelitian obat-obatan.

"Tumbuhan jenis mangrove sejati yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Sedangkan tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans," kata Alin dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

BRIN Ungkap Manfaat Mangrove untuk Pengobatan Tradisional

Alin menjelaskan bahwa masyarakat lokal telah lama memanfaatkan tumbuhan dari kawasan hutan mangrove sebagai bahan pengobatan tradisional untuk membantu menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai keluhan.

Bagian tumbuhan yang paling sering digunakan masyarakat adalah daun dan buah, dengan pemanfaatan berdasarkan pengetahuan serta praktik pengobatan tradisional yang berkembang secara turun-temurun.

Pemanfaatan mangrove secara tradisional mencakup penanganan berbagai keluhan kesehatan, seperti memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, hingga sakit gigi.

Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau, yang bagian daun dan buahnya digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, serta luka.

Jenis lainnya, yakni Rhizophora mucronata, juga dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional untuk membantu menangani diare, sakit perut, dan luka pada kulit.

"Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan untuk diare, sakit perut, dan luka pada kulit," ujar Alin.

Mangrove Mengandung Senyawa Bioaktif Berpotensi untuk Penelitian Obat

Selain mencatat pemanfaatan secara tradisional, para peneliti BRIN mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif dalam tumbuhan mangrove yang berpotensi dikembangkan untuk penelitian di bidang kesehatan.

Senyawa bioaktif yang ditemukan meliputi alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin.

Menurut Alin, senyawa tersebut memiliki potensi aktivitas biologis sebagai antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.

Meski memiliki potensi tersebut, keberadaan senyawa bioaktif dalam tumbuhan mangrove belum secara otomatis membuktikan efektivitas dan keamanan penggunaannya sebagai obat untuk manusia.

Alin menegaskan bahwa penggunaan tumbuhan sebagai bahan pengobatan tradisional harus dibedakan dari tanaman yang khasiat medisnya telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah.

Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk menguji efektivitas farmakologis, keamanan, serta manfaat medis dari kandungan senyawa yang ditemukan pada tumbuhan mangrove.

"Meskipun demikian, kami membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat medis. Oleh karena itu, potensi tanaman mangrove sebagai bahan obat masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas farmakologisnya," ucap Alin menjelaskan.

BRIN Ingatkan Ancaman Kerusakan Habitat Mangrove di Kawasan Pesisir

Selain mengungkap potensi mangrove sebagai sumber bahan obat, Alin mengingatkan adanya ancaman terhadap kelestarian habitat tumbuhan tersebut akibat aktivitas manusia di kawasan pesisir.

Aktivitas penebangan mangrove dan pembangunan kawasan pesisir berpotensi menghilangkan habitat alami sekaligus mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove.

Kerusakan habitat juga dapat mengancam keberadaan berbagai jenis tumbuhan yang memiliki nilai ekologis dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan penelitian obat pada masa mendatang.

Karena itu, kelestarian kawasan mangrove menjadi aspek penting dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mempertahankan sumber daya alam yang berpotensi dikembangkan untuk penelitian kesehatan.

Hasil Penelitian Mangrove Aceh Dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah

Temuan mengenai potensi tanaman obat dari ekosistem mangrove Aceh telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Biodiversitas Journal of Biological Diversity, Volume 27 Nomor 3, pada Maret 2026.

Penelitian tersebut berjudul Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia, yang membahas komposisi jenis dan pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai bahan pengobatan di wilayah barat daya Aceh.

Tim peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut terdiri atas Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto.

Penelitian ini mengkaji keanekaragaman tumbuhan mangrove beserta potensi pemanfaatannya dalam pengobatan tradisional sebagai dasar untuk pengembangan penelitian ilmiah lebih lanjut.

Penulis :
Shila Glorya
Editor :
Shila Glorya
FLOII 2026