Pantau Flash
Bursa Saham Kawasan Naik, IHSG Menguat 15,07 Poin
Eijkman: Flu Babi Membawa Semua Gen yang Pernah Menimbulkan Pandemi
Sudah Ada 29.919 Orang di Indonesia yang Sembuh dari COVID-19
Nadiem Tegaskan Kebijakan: Belajar Merdeka Memiliki Daya Saing Kuat
Pratikno: Janagan Ribut Lagi Soal Reshuffle, Progres Kabinet Berjalan Bagus

ESDM dan DPR Sepakat Asumsi Harga Minyak 42-45 Dolar per Barel

ESDM dan DPR Sepakat Asumsi Harga Minyak 42-45 Dolar per Barel Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan pendapat akhir pemerintah dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/5/2020). (ANTARA FOTO/Didik )

Pantau.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Komisi VII DPR RI menyepakati asumsi dasar makro untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD42-45 per barel untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2021.

Sementara itu, target lifting minyak dan gas (migas) juga ditetapkan 1,68 juta-1,72 juta barel oil equivalen per day (BOEPD). Dalam paparan, disebutkan, lifting minyak bumi sebesar 690.000-710.000 barel oil per day (BOPD), dan lifting gas bumi sebesar 990.000-1,01 juta BOEPD. Sedangkan biaya penggantian atau cost recovery sebesar USD7,5-8,5 miliar.

Baca juga: Kementerian ESDM Keluarkan Kebijakan Baru untuk Tingkatkan TI

Kesepakatan tersebut tercapai saat Rapat Kerja antara Kementerian ESDM dengan Komisi VII DPR di Komplek DPR Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2020). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif juga menjelaskan bahwa penetapan asumsi dasar RAPBN 2021 sudah sesuai usulan dari Komisi VII DPR.

Sebelumnya, Arifin Tasrif menegaskan pagu indikatif Kementerian ESDM tahun 2021 telah diputuskan bersama Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sebesar Rp6,84 triliun.

Besaran pagu indikatif ini, jelas Arifin, naik 10 persen dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun 2020 yang mencapai Rp6,2 triliun.

Baca juga: Harga BBM Tidak Turun, Menteri ESDM Kasihan pada Pertamina

Seperti tahun-tahun sebelumnya, belanja publik fisik mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan belanja publik nonfisik dan belanja aparatur, yaitu sebesar 47,1 persen atau Rp3,22 triliun dari pagu indikatif Rp6,84 triliun. Kemudian akan digunakan antara lain untuk pembangunan jaringan gas untuk rumah tangga, konkit nelayan, konkit petani, konversi mitan ke LPG, PLTS Atap, pos pengamatan gunung api, geopark hingga peralatan mitigasi bencana geologi.

Sementara dana belanja publik nonfisik digunakan untuk pembinaan, pengawasan, pelayanan publik/perizinan, penyusunan kebijakan/peraturan, survei, penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan, telah dianggarkan sebesar Rp1,59 triliun atau 23,2 persen. Sekitar 29,7 persen atau Rp2,03 triliun lainnya dibelanjakan bagi keperluan aparatur seperti pembayaran gaji dan tunjangan, operasional dan pemeliharaan kantor, pengadaan peralatan kerja.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: