Pantau Flash
Bio Farma Soal Vaksin Rusia: Tidak Mengikuti Kaidah Ilmiah untuk Registrasi
Sebanyak 38 Orang di DPRD Jawa Barat Terinfeksi COVID-19
Bareskrim Polri Tetapkan Djoko Tjandra sebagai Tersangka Surat Jalan Palsu
Dua Pejabat Polri Jadi Tersangka Kasus Surat Jalan Djoko Tjandra
Selamat! 167.653 Peserta Lolos SBMPTN 2020

Kementan: Olahan Bahan Pangan Lokal Miliki Potensi Besar

Kementan: Olahan Bahan Pangan Lokal Miliki Potensi Besar Kepala distrik Sentani saat menunjukkan hasil kerja warga Kampung Dondai dalam mendukung program ketahanan pangan lokal selama pandemi COVID-19. ANTARA Papua/HO-Humas COVID-19 Pemkab Jayapura

Pantau.com - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan Indonesia memiliki potensi bahan pangan lokal sangat besar yang bisa diolah untuk memenuhi kecukupan gizi pada anak.

"Sebagian olahan bahan pangan lokal Indonesia bahkan sudah diekspor ke berbagai negara, tetapi tidak dipasarkan di dalam negeri," kata Suwandi dalam seminar daring yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang diikuti melalui akun Youtube Forum Anak Nasional di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Baca juga: Kementan Pastikan Stok Hewan Kurban Lokal Penuhi Permintaan


Suwandi mengatakan Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Dengan potensi bahan pangan yang sangat besar tersebut, masyarakat Indonesia seharusnya sangat mampu untuk melakukan diversifikasi pangan, yaitu tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja, termasuk dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

"Beberapa bahan pangan lokal Indonesia yang memiliki potensi cukup tinggi antara lain ubi kayu atau singkong, ubi jalar, jagung, sorgum, talas, ganyong, gadung, gembili, garut, porang, hanjeli, dan hotong," kata Suwandi.

Ubi kayu dibudidayakan di Indonesia dengan luasan lahan mencapai 628 ribu hektare dengan produksi per tahun mencapai 16,35 juta ton, sedangkan tanaman sorgum dibudidayakan pada lahan seluas 15.356 hektare di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Dari segi kandungan kalori, sorgum juga tidak kalah tinggi dibandingkan beras. Setiap 100 gram sorgum mengandung 332 kalori, sedangkan beras mengandung 360 kalori, tetapi mengandung protein dan vitamin yang lebih tinggi.

Sementara itu, Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin mengatakan konsumsi kalori anak-anak di Indonesia masih cukup rendah.

Baca juga: Mentan Minta Semua Dirjen Turun ke Lapangan di Musim Tanam Kedua


"Sebanyak 9,87 persen anak usia nol hingga 17 tahun mengonsumsi kalori kurang dari 1.400 kilokalori," katanya.

Menurut Lenny, pemenuhan gizi yang tidak baik dan seimbang kepada anak menyebabkan sejumlah permasalahan kesehatan anak, yaitu kekurangan zat besi atau anemia, stunting, kurang energi kronis, dan kegemukan atau obesitas.



Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Tatang Adhiwidharta

Berita Terkait: