Pantau Flash
Bawaslu Tegaskan ASN Tidak Netral Jika Petahana Ikut Pilkada
Wagub DKI: Belum Ada Tanda Lonjakan Kasus COVID-19 Akibat Demo
Publik Bisa Akses Seluruh Naskah UU Ciptaker Setelah Diteken Presiden
Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Jadi 381.910 per 23 Oktober
Polri Tetapkan 8 Tersangka Kebakaran Kejaksaan Agung

156 Negara Gabung dalam Skema Adil Vaksin Global, AS dan China Absen

156 Negara Gabung dalam Skema Adil Vaksin Global, AS dan China Absen Ilustrasi Vaksin COVID-19. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Sebuah aliansi yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, 156 negara di dunia bergabung dalam skema global distribusi vaksin COVID-19, kecuali Amerika Serikat dan China.

Menurut WHO dan aliansi vaksin GAVI, skema itu akan mencakup sekitar dua pertiga dari populasi di dunia.  Puluhan vaksin sedang dalam proses pengujian.

Seperti diketahui virus korona secara global telah menginfeksi sekitar 31 juta orang dan menelan hampir 1 juta korban jiwa, seperlima di antaranya tercatat di AS. "COVAX akan memberi dunia portofolio calon vaksin terbesar dan paling beragam," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi virtual, dikutip Reuters, Selasa (22/9/2020).

Baca juga: Peneliti: Kini Masker Lebih Efektif Cegah COVID-19 Ketimbang Vaksin

"Ini bukan amal, ini demi kepentingan terbaik seluruh negara. Kami tenggelam bersama atau berenang bersama. Ini bukanlah hak untuk melakukan sesuatu, ini hal yang cerdas untuk dilakukan."

Sejumlah negara kaya yang enggan terhadap COVAX, rencana tersebut telah menyoroti tantangan dalam menyalurkan vaksin secara merata di seluruh dunia. Aliansi vaksin mengatakan mereka berharap 38 negara kaya lainnya akan bergabung dengan gagasan tersebut.

Mereka mengaku telah menerima komitmen sebesar USD1,4 miliar atau sekitar Rp20,6 triliun untuk pengembangan dan penelitian vaksin, namun membutuhkan dana tambahan USD700-800 juta sesegera mungkin. Lebih dari 150 calon vaksin COVID-19 di seluruh dunia sedang dikembangkan dan diuji coba, dengan 38 di antaranya dalam tahap uji klinis manusia.

Baca juga: Trump Berharap Seluruh Warga AS Disuntik Vaksin COVID-19 April 2021

AS dan China sendiri memilih untuk absen. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengamankan pasokan vaksin COVID-19 masa depan melalui kontrak bilateral. Langkah ini menuai tuduhan sikap egois yang merugikan negara-negara miskin.

China juga tidak tercantum dalam daftar 64 negara kaya yang tergabung dalam rencana yang disebut COVAX untuk menyalurkan 2 miliar dosis vaksin di seluruh dunia pada akhir 2021. Nantinya, para tenaga medis dan orang-orang yang rentan menjadi prioritas dalam penyaluran tersebut.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: