Pantau Flash
Dilarikan ke Puskesmas! Puluhan Warga Alami Luka Bakar Akibat Awan Panas Gunung Semeru
Jembatan Penghubung Lumajang-Malang Putus Diterjang Lahar Dingin Gunung Semeru!
Polri Sosialisasikan Pengangkatan 57 Eks Pegawai KPK Pekan Depan
Gunung Semeru Meletus, Gubernur Khofifah Perintahkan Segera Evakuasi Warga
Gunung Semeru Erupsi, Warga Diperingatkan untuk Selamatkan Diri

Hari Guru Nasional, Ahmad Basarah Harap Guru Jadi Benteng Ideologi Pancasila

Hari Guru Nasional, Ahmad Basarah Harap Guru Jadi Benteng Ideologi Pancasila Wakil Ketua MPR RI, Dr. Ahmad Basarah, M.H (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Wakil Ketua MPR sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Basarah menyebutkan bahwa peran guru di revolusi industri 4.0 sekarang menjadi lebih berat. Guru tidak saja sekadar mengajarkan teori, tapi juga bisa menjadi bagian dari benteng ideologi yang menjaga penerus bangsa dari ancaman ideologi transnasionalisme.

“Teknologi membuat guru dan buku bukan satu-satunya sumber ilmu dan informasi. Tekologi membuat para siswa sekarang bisa mengakses informasi secara bebas tanpa batas. Ini bagus dari sisi pengembangan siswa dalam belajar, tapi bukan tanpa ancaman. Ada penumpang gelap dalam banjir informasi berupa ideologi transnasional,” kata Ahmad Basarah, di Hari Guru Nasional 2021 yang jatuh Kamis (25/11/2021) ini. 

Baca juga: Ahmad Basarah Puji Gerakan Sosial dan Peran Moderasi Islam Muhammadiyah

Dalam menghadapi banjir informasi yang bersifat transnasional itu, Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu berharap para guru dapat memperkuat aspek kognitif siswa dengan ideologi Pancasila. Menurut Ahmad Basarah, setidaknya ada dua ideologi transnasional yang secara masif menjadi penumpang gelap kemajuan teknologi informasi yang terus bekerja menghancurkan generasi muda Indonesia, masing-masing liberalisme dan fundamentalisme pasar serta fundamentalisme agama.

‘’Paham individualisme dan liberalisme menegasikan kepentingan komunal dan mengedepankan kepentingan individu. Dari sinilah antara lain lahir pembelaan atas paham yang melegalkan pernikahan sejenis di beberapa negara barat yang berpangkal dari paham individualisme liberalisme tersebut. Aktivitas ini banyak  yang membela atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) dunia,’’ jelas Ahmad Basarah.  

Di sisi lain, lanjut Ahmad Basarah yang juga berprofesi sebagai ‘’guru’’ di Universitas Islam Malang itu, fudamentalisme dan radikalisme berbasis agama juga muncul. Dia menunjuk berbagai temuan lembaga survei nasional tentang adanya sikap intoleran dan penolakan terhadap Pancasila oleh sementara kalangan di tengah masyarakat Indonesia.

Jika fakta ini dibiarkan, Ahmad Basarah pesimis para guru akan menjadi benteng ketahanan ideologi nasional. Karena itu dia berharap, dalam peringatan Hari Guru Nasional yang memajang tagline 'Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan' ini, semua guru hendaknya mengingat kembali pesan Bung Karno dalam tulisannya ‘’Menjadi Guru di Masa Kebangunan’’. 

“Jika guru-guru perguruan kita itu hanya guru-guru yang "tahu mengajar menulis dan menghitung" saja, maka alangkah besarnya bencana yang dapat menjangkit daripada penyakit-penyakit masyarakat internationaal kepada tubuhnya masyarakat sendiri. Kalau guru-guru kita tidak orang-orang yang geestelijk weerbaar (tangguh secara mental) terhadap kepada jangkitannya penyakit-penyakit itu, maka bolehlah bangsa Indonesia dari sekarang sedia-sedia akan menerima hari kemudian yang kelam hitam sama sekali,” kata Ahmad Basarah, mengutip tulisan Bung Karno itu. 

Baca juga: Peringatan Hari Santri, Ahmad Basarah Puji Peran Santri dalam Jihad Melawan Covid-19

Untuk itu Ahmad Basarah, yang menulis buku ‘’Bung Karno, Islam dan Pancasila’’, berharap para guru mendalami Pancasila karena ideologi ini terbukti telah mempersatukan keragaman Indonesia. Bangsa Indonesia yang berpenduduk hampir 270 juta jiwa ini memang ditakdirkan hidup dalam keragaman. Terdapat sekitar 1.340 suku, 718 bahasa, 17.504 pulau, serta enam agama dan aliran kepercayaan.

Ahmad Basarah melanjutkan, ketika program merdeka belajar menekankan kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif, seharusnya program ini diikuti dengan penguatan dari sisi mental ideologis. Salah satunya dengan memasukkan  Pancasila sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. 

“Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila harus diajarkan kepada generasi penerus bangsa. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kalau kebebasan dalam berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif tidak berpedoman pada nilai-nilai ideologi Pancasila. Di situ diajarkan tentang ketuhanan, keadilan sosial, persatun bangsa dan seterusnya,” pungkas Basarah. 

Berdasarkan Keppres Nomor 78 Tahun 1994 dan juga UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati bersamaan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari Guru Nasional 2021 mengusung tema "Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan".

Tim Pantau
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: