Pantau Flash
OJK: Jumlah Investor di Pasar Modal Meningkat hingga 96 Persen
Mohon Tetap Waspada! Kasus COVID-19 di Indonesia Bertambah 33.900 per Hari Ini
Alhamdulillah, Pemerintah Resmi Bebaskan Pajak Sewa Toko Pedagang di Pasar hingga Mal
PSSI: Liga 1 2021-2022 Dimulai 20 Agustus 2021 di Zona Hijau
Kemendikbud Alokasikan Rp24 T untuk 240 Ribu Laptop Buatan Lokal bagi Pelajar, KPK Siap Kawal

Satu Dosis Lebih Baik dari Tidak Sama Sekali, tapi Butuh Dosis Lengkap untuk Varian Delta

Satu Dosis Lebih Baik dari Tidak Sama Sekali, tapi Butuh Dosis Lengkap untuk Varian Delta Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Virus corona varian Delta yang pertama kali ditemukan di India, sekarang menular cepat ke seluruh dunia dengan tingkat penyebarannya yang lebih cepat dibandingkan varian lain.

  • Pihak berwenang kesehatan di Australia mengatakan diperlukan dua dosis vaksin untuk melindungi diri dari varian Delta
  • Pakar mengatakan dampak jangka panjang kasus penggumpalan darah sama pentingnya dengan kematian
  • Sejauh ini sudah 6,5 juta vaksin COVID-19 diberikan di Australia

Dengan program vaksinasi yang sedang berjalan di seluruh dunia menggunakan merk vaksin yang berbeda, timbul pertanyaan apakah vaksin yang diterima bisa ampuh menghadapi varian delta.

Di Australia, Therapeutic Goods Administration (TGA), yakni lembaga yang mengeluarkan persetujuan soal obat-obatan, mengatakan satu dosis vaksin Pfizer atau AstraZeneca sudah memberikan perlindungan yang memadai terhadap kebanyakan varian virus corona yang sudah ada. Tapi untuk melindungi diri dari varian Delta maka diperlukan dua dosis vaksin.

Baca juga: Lengkap! Ini Instruksi Mendagri 14/2021 soal PPKM Mikro

"Berita bagus berkenaan dengan varian Delta ini adalah meski sangat menular, namun varian itu masih bisa ditangani dengan vaksin yang ada, tetapi memang kita harus mendapatkan dua dosis vaksin," kata Dr John Skerritt, kepala TGA, dilansir ABC News, Selasa (22/6/2021).

Dr Skerritt mengatakan walau nantinya warga Australia akan memerlukan vaksin penguat, atau 'booster', dua dosis vaksin yang didapat saat ini akan memberikan perlindungan lebih lama dibandingkan hanya satu dosis. "Tentu saja satu dosis jauh lebih baik dibandingkan tidak divaksin sama sekali, namun itulah mengapa kita sekarang menjalankan program vaksin dua dosis."

Dampak jangka panjang sama buruknya dengan kematian

Australia memang sudah mengubah kebijakan vaksinasi, yakni tidak memberikan vaksin AstraZeneca kepada mereka yang berusia di bawah 60 tahun. Dalam sidang yang melibatkan TGA terungkap alasannya adalah kemungkinan dampak jangka panjang akibat penggumpalan darah bagi mereka yang mendapat vaksin AstraZeneca.

Pekan lalu, para pakar mengenai vaksin di Australia yang tergabung dalam Kelompok Penasehat Teknik Mengenai Imunisasi (ATAGI) mengubah petunjuk karena kasus penggumpalan darah yang disebut sindroma thrombocytopenia (TTS).

Salah satu ketua ATAGI, Christopher Blyth, mengatakan risiko seseorang meninggal karena penggumpalan darah setelah mendapat vaksin AstraZeneca adalah 1 dalam 2 juta orang.

Baca juga: Tetangga Terdekat Indonesia Ini Akan Penjarakan Warganya yang Menolak Vaksin COVID-19!

Sementara seseorang  mengalami penggumpalan darah pada umumnya adalah tiga sampai empat persen, menurut data di Australia. Tetapi Dr Blyth menjelaskan keputusan ATAGI mengubah kebijakan adalah karena adanya dampak jangka panjang dari sekitar 60 warga Australia yang sudah mengalami penggumpalan darah setelah mendapatkan vaksin. "Resiko kematian memang lebih rendah, namun saya kira kita harus mempertimbangkan hal lain, bukan saja soal kematian."

"Sejumlah warga Australia mengalami dampak buruk dari kasus penggumpalan darah dan mereka adalah individu yang lebih muda, dan dampak buruk ini dalam pandangan saya sama pentingnya dengan kematian." "Dari itu, sejumlah individu tersebut akan mengalami komplikasi jangka panjang dari apa yang mereka alami."

Menurut Komando Gugus Tugas COVID-19 di Australia, Letnan Jenderal John Frewen, sejauh ini sudah 6,5 juta dosis vaksin yang diberikan. Australia saat ini memiliki 2,3 juta dosis vaksin Pfizer dan akan mendapatkan tambahan 3,4 juta dosis Pfizer lagi di akhir Juli.

Untuk pertama kalinya seluruh negara bagian di Australia mendapatkan rincian data mengenai berapa banyak vaksin yang akan mereka terima sampai akhir tahun.

Tim Pantau
Editor
Noor Pratiwi
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: