Forgot Password Register

37 Tahun Tinggal di Filipina, Pastor Katolik AS Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual

37 Tahun Tinggal di Filipina, Pastor Katolik AS Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Ilustrasi gereja. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Pihak imigrasi Filipina telah menahan seorang pastor Katolik asal Amerika Serikat Kenneth Hendricks yang dituduh melakukan penganiayaan seksual terhadap putra altar di sebuah kota terpencil.

Putra altar merupakan anak-anak yang membantu seorang pastor ketika memimpin misa, dan kasus ini digambarkan sebagai 'mengejutkan dan menjijikan'.

Pastor Kenneth Bernard Hendricks sudah dijatuhkan tuduhan di Ohio, Amerika Serikat atas pelanggaran di Filipina, ditahan di kota Naval di provinsi Biliran hari Rabu (5 Desember 2018).

Menurut keterangan seorang penuntut AS Benjamin Glassman dalam jumpa pers di Cincinnati, Amerika Serikat, bila dinyatakan bersalah terhadap 50 tuduhan terhadap Hendricks, tiap hukuman bisa dikenai maksimal 30 tahun penjara.

Melansir ABC News, Jumat (7/12/2018), pengadilan di Ohio telah mengeluarkan perintah penahanan terhadap Hendricks (77) yang sudah tinggal selama 37 tahun di Filipina. Menurut laporan, kasus ini bermula dari aduan beberapa anak di Filipina dengan tindak kriminal terjadi di sana.

Belum ada reaksi segera dari kedutaan AS di Manila, pejabat gereja Katolik Filipina maupun dari Pastor Hendricks, yang sudah diterbangkan ke Manila dan ditahan di tahanan imigrasi.

Baca juga: Paus Fransiskus Desak Pastor Homoseksual Tinggalkan Gereja

Pastor Hendricks dituduh melakukan penganiayaan seksual terhadap putra altar di Kota Naval, dengan sekitar 50 pelanggaran yang terjadi di kediamannya. Menurut pihak berwenang di Amerika Serikat, Pastor Hendricks tinggal bersama anak-anak yang menjadi putra altar tersebut, dan melakukan penganiayaan terhadap korban baik sendirian maupun ketika mereka bersama-sama.

Para korban mengatakan kepada penyidik bahwa Hendricks mencoum mereka, memegang alat kelamin, dan meminta tindakan seks oral serta anal. Salah seorang diantaranya mengatakan pernah 40 kali berhubungan seksual dengan pastor tersebut.

"Para korban berada di kediaman pastor dan pelanggaran terhadap ketika dia mandi bersama-sama dengan para korban," kata juru bicara Biro Imigrasi Filipina Dana Sandoval.

Baca juga: Terungkap, Pastor Gereja Katolik di Jerman Lakukan Pelecehan Seksual Selama 70 Tahun

Menurut Sandoval, pihak berwenang Amerika Serikat memberikan informasi mengenai tindak penyerangan seksual itu kepada pemerintah Filipina. Menurutnya, para korban diancama bahwa mereka akan dipenjara bila memberitahu siapapun mengenai apa yang terjadi. Sejauh ini dilaporkan sudah 10 korban yang melaporkan mengenai apa yang mereka alami.

Dari lima yang sudah diwawancarai, korban termuda berusia tujuh tahun ketika tindak kriminal terjadi.

Menurut Biro Imigrasi, kedutaan AS akan mencabut paspor Pastor Hendricks sehingga lebih memudahkan pemerintah Filipina mendeportasinya.

"Pastor Hendricks adalah seorang pelarian yang membahayakan bagi publik dan keamanan. Kami tidak akan membiarkan predator seksual mencari korban anak-anak kami. Orang seperti dia harus diusir dan dilarang dari Filipina," kata Sandoval.

Menurut Benjamin Glassman, salah seorang penuntut di AS, dia menginginkan kasus ini diadili di Ohio, namun kantornya masih berkoordinasi dengan pemerintah Filipina menenai hukum mana yang akan digunakan.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More