Pantau Flash
Sainsbury Akan Stop Berjualan Kembang Api
Timnas Panahan 'Downgrade' Target Medali di SEA Games 2019
Pertumbuhan Ekonomi China di Kuartal ke-3 Meleset dari Ekspektasi
Kementan Dorong Penambahan Satu Juta Petani Milenials
Pemkab Bekasi Minta Proyek LRT Diperpanjang hingga Cikarang

Aneh, Seorang Ayah Berhentikan Anaknya dari Sekolah Agar Fokus Bermain Game

Aneh, Seorang Ayah Berhentikan Anaknya dari Sekolah Agar Fokus Bermain Game Ilustrasi bermain game (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Jika kebanyakan orang tua saat ini bak kebakaran jenggot melihat anaknya terlalu fanatik bermain gadget, tapi tidak dengan seorang ayah di Kanada yang malah membiarkan anaknya berhenti sekolah dan fokus bermain game.

Langkah Dave Herzog (49) ini memicu kontroversi karena mendukung karir putranya untuk menjadi eSports, menurutnya menarik putranya, Jordan dari sekolah bisa membuatnya lebih fokus untuk melatih skill bermain game-nya.

Baca juga :  Pantau Grafis: Bikin Tajir! Ini 5 Game Esports dengan Total Hadiah Terbesar

Jordan dibiarkan sang ayah bermain game selama 10 tahun lamanya. Dave yang juga seorang gamer itu mengaku sudah memberikan stik game kepada Jordan yang masih berusia 3 tahun, dan tidak butuh waktu lama anaknya menunjukkan bakat dalam dunia game.

Saat berusia 7 tahun, Jordan telah mampu menjadi pemain Halo profesional, dan pada usia 10 tahun ia sudah mendominasi game lokal. Terlebih saat Jordan berhasil memenangkan turnamen Halo pertamanya dan memenangkan busana gaming senilai 2000 dollar, Dave menyadari putranya lebih berbakat darinya.

"Bola lampu meledak, begitu dia mulai menang segalanya menjadi lebih mudah," ujar Dave mengutip Odditycentral

Kini Jordan 'Crimz' telah berusia 16 tahun dan sudah menjadi salah satu pemain Fornite paling sukses di dunia. Ia telah memenuhi persyaratan mengikuti Kejuaraan Fornite Dunia tahun ini bersama 200 pemain lain dari seluruh dunia, dengan total hadiah mencapai 30 juta dollar.

Menurut Dave, Jordan memiliki bakat bawaan ayahnya dalam bermain game. Dalam sehari Jordan menghabiskan waktu 8 hinga 10 jam untuk bermain Fornite, makan juga di depan komputer, agar ia dapat menonton video YouTube dan berbicara dengan teman satu timnya, serta menghadiri kelas sekolah secara online, agar ia juga tidak banyak waktu menjauh dari keyboard-nya.

Tahun lalu tepatnya Dave mengeluarkan Jordan dari sekolahnya atas protes dari sang ibunda, yang juga sama sekali tidak menyesali keputusannya. Bahkan setelah Jordan lolos ke pertandingan utama Fornite, ia mengirimkan email ke sekolah lamanya untuk memberi tahu berapa banyak uang yang dihasilkan Jordan asal ia berada di tempat yang tepat.

Baca juga: Kaesang Pangarep Tak Mampu Bawa Gelar Juara di Ajang 'Sang Pisang Gaming Championship 2018'

Meski begitu kontroversi tetap terjadi, dengan tuduhan kedua orang tua Jordan mengeksploitasi anak, namun Dave menganggap itu adalah masalah sudut pandang. Sama seperti les piano atau olahraga, banyak orang tidak mempermasalahkannya, tapi hanya karena game mengapa lalu dianggap eksploitasi.

"Teman-teman datang dan pergi, dan sebagainya, tetapi ini (game) bisa menjadi karir dan masa depan saya," ungkap Jordan.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Dini Afrianti Efendi
Category
Ragam

Berita Terkait: