Forgot Password Register

Cerita Teroris ISIS Pulang Kandang, Bicara Soal Ancaman

Cerita Teroris ISIS Pulang Kandang, Bicara Soal Ancaman Mahir meninggalkan Australia di tahun 2014 ketika masih berusia 21 tahun, untuk bergabung dengan kelompok teroris ISIS di Timur Tengah. Kini dia berharap diperbolehkan kembali. (Foto: Facebook/Mahir Alam)

Pantau.com - Setelah kelompk teroris ISIS kalah di Irak dan Suriah, seorang teroris ISIS asal Australia Mahir Absar Alam berjanji tidak akan menikam orang jika dia diperbolehkan pulang ke Australia.

Mahir yang kini berusia 26 tahun ditangkap oleh pasukan Kurdi yang mengepung basis terakhir ISIS di Baghouz. Dia ditangkap bersama istri dan dua anaknya.

Mantan mahasiswa akuntansi Swinburne University di Melbourne ini meninggalkan Australia pada Juli 2014 lalu, tak lama setelah pemimpin ISIS memproklamirkan "kekhalifahan" mereka.

"Semuanya berawal ketika Abu Bakar al Baghdadi muncul di TV dan berpidato di masjid di Mosul itu. Kami mendukung ajakannya dan datang ke sini," katanya, yang dikutip dari ABC News, Jumat (5/4/2019).

Namun yang dia hadapi justru kemerosotan "kekhalifahan" ISIS tersebut. "Kita mencoba melarikan diri tapi tidak bisa. Tidak ada yang lain kecuali kematian yang tampak dimana-mana," ucapnya.

"Kita melangkah ke depan, mati; melangkah ke belakang, mati; melangkah ke kiri dan ke kanan, mati. Kami terjebak," tutur Mahir.

Baca juga: Infografis 5 Situs Bersejarah yang Dihancurkan ISIS saat Perang

Mengaku sebagai perawat

Ketika Mahir ke Suriah, saat itu ISIS sudah berhasil menaklukkan Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Kelompok teroris ini kemudian menaklukkan kota-kota lainnya di wilayah utara negara itu, membunuhi pria dan memperbudak wanita dari minoritas suku Yazidi.

ISIS juga saat itu gencar melakukan kampanye terornya dengan mempertontonkan pemenggalan wartawan dari negara-negara Barat serta pekerja kemanusiaan.

Mahir membantah pernah menginjakkan kaki di Irak saat itu. Dia juga membantah ikut ambil bagian dalam kekejaman aksi ISIS tersebut.

"Orang perlu tahu bahwa kami tidak memperkosa, tidak membunuh. Saya tidak pernah membakar siapapun," katanya.

Seperti para anggota ISIS lainnya yang tertangkap, Mahir juga membantah pernah ikut berperang bersama kombatan ISIS. "Mereka memang memintaku ikut perang. Mereka memaksa orang ikut perang, tapi saya menolak keras. Saya tidak bisa berperang," ujarnya.

Ditanya bahwa banyak pendukung ISIS yang tertangkap melontarkan bantahan serupa, Mahir mengatakan dia benar-benar bukan kombatan. Sebaliknya, Mahir mengklain dia merupakan perawat di sebuah rumah sakit yang dikelola ISIS. Dia mengaku kadang bekerja bersama dokter asal Australia Tareq Kamleh. Dia juga mengaku pernah melihat Khaled Sharrouf dan Mohammed Elomar, dua teroris asal Australia yang terkenal.

"Saya melihat Abu Zarqawi, atau Khaled Sharrouf, bersama anak-anaknya di rumah sakit. Ada beberapa orang Australia lainnya yang datang. Mereka bersama anak-anaknya dan membutuhkan perawatan," katanya.

Alam mengungkap dari pasien yang masuk ke rumah sakit terlihat bagaimana kebrutalan hidup di bawah "kekhalifahan" ISIS. "Saya telah banjir darah, perempuan dan anak-anak tak berdosa dibunuh tanpa alasan hanya karena pergi belanja," katanya.

"Pada satu menit kita masih berada di rumah, namun pada menit berikutnya kita telah kehilangan kaki dan tangan," ujar Mahir.

Anggota ISIS lainnya yang telah melarikan diri atau tertangkap umumnya balik mengecam kelompok teroris ini. Mereka mengaku disesatkan oleh janji-janji palsu dalam propaganda ISIS.

Begitu pula dengan Mahir. "Propaganda mereka itu keliru. Mereka tak pernah berbuat sesuatu yang layak, kecuali untuk diri mereka sendiri," katanya.

Baca juga: Hubungan Teroris Daesh dengan Pimpinan Islam Finlandia Terungkap

Kedapatan menonton film

Mahir mengaku pernah berusuran dengan polisi moral ISIS ditakuti, Hisbah, setelah mereka menemukan film yang dia unduh sebelumnya.

"Suatu hari Jumat saya bermaksud menonton film bersama istri di rumah. Saya suka nonton Game of Thrones di Raqqa tapi hal itu menimbulkan masalah besar," katanya.

"Mereka menuduhku mendistribusikan film, suatu tuduhan mengerikan. Mereka menghancurkan hard drive saya yang penuh dengan film," katanya.

Mahir mengaku pernah dipenjara oleh ISIS karena berusaha melarikan diri. Mengenai keinginannya kembali ke Australia, Mahir menyatakan bersedia menghadapi risiko hukuman apapun.

"Saya rela melakukan apapun untuk pulang ke Australia. Sudah lama saya ingin pulang, tetapi sangat sulit," tutur Mahir.

Dia berjanji tidak akan membahayakan warga Australia jika kembali ke negara itu lagi. "Kami bukan seperti yang lain yang akan menikam orang; kami tidak akan melakukan hal mengerikan seperti itu," katanya.


Pasukan Democratik Suriah (SDF) menyatakan berhasil mengalahkan ISIS pada Maret 2019. (Foto: AP/Felipe Dana via ABC News)

"Kami hanya ingin pulang ke rumah, tinggal bersama orangtua kami lagi. Saya janji bahkan tak akan keluar rumah," ucap Mahir.

"Bahkan jika mereka mengirim saya ke Antartika saya mau. Saya hanya ingin pergi sejauh mungkin dari sini," tambahnya.

Diperkiraka sekita 200 warga Australia telah bergabung dengan ISIS, bersama dengan ribuan orang lainnya dari Eropa dan Amerika Utara.

Pihak Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang kini menahan para pengungsi tersebut, meminta negara-negara Barat mengambil kembali warganya itu.

Namun Pemerintah Australia menolak keras permintaan tersebut.

Di Australia, jika Mahir bisa kembali, kemungkinan dia akan dituntut dengan pelanggaran memasuki wilayah perang di negara lain serta mendukung organisasi teroris.

Namun setidaknya penjara Australia masih jauh lebih baik daripada yang dialami anggota ISIS lainnya sejauh ini. Sebagian di antara para kombatan asing ISIS dikirim ke Irak dan dijatuhi hukuman mati.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More