Pantau Flash
PSG Tolak Tawaran Barcelona untuk Neymar
Amnesty International Desak Presiden Jokowi Ambil Alih Kasus Novel
BPPT: Gempa Megathrust Magnitudo 8,8 Berpotensi di Selatan Pulau Jawa
Wadah Pegawai KPK Kecewa dengan Hasil Investigasi TPF Kasus Novel
Penyuap Romahurmuziy Dituntut 3 Tahun Penjara dan Ditolak Jadi JC

Datangkan Pemain Mahal, Bagaimana Neraca Keuangan Juventus?

Datangkan Pemain Mahal, Bagaimana Neraca Keuangan Juventus? Football and Money. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Seperti belum puas untuk bisa menjadi jawara Eropa, Juventus terus berbenah setahap demi setahap. Betapa tidak, klub asal Italia ini sudah memenangkan gelar juara Scudetto dengan delapan kali secara beruntun.

Sayangnya, trofi Liga Champions tak kunjung menghampiri klub yang bermarkas di Turin, Italia itu. Terakhir, Bianconeri meraih gelar juara pada 1996 di era kepelatihan Marcelo Lippi.

Melihat neraca keuangan Juventus, mereka salah satu klub yang paling sehat. Namun, klub milik Andrea Agnelli ini wajib patuh terhadap peraturan Financial Fair Play (FFP). 

Menurut data Transfermarkt, total pengeluaran Juventus musim lalu yakni 261,5 juta euro untuk belanja di bursa transfer. Sementara pendapatan mereka hanya 109 juta euro.

Baca Juga: Juventus Segera Tuntaskan Transfer De Ligt

Tak ayal, setengah dari pengeluaran, sekira 117 juta euro, dikeluarkan Juventus untuk memboyong Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Musim ini, tim racikan Maurizio Sarri ini mencoba bergerilya di bursa transfer.

Transfer raksasa diyakini bakal dilakukan Juventus dalam waktu dekat dengan mendatangkan wonderkid, Matthijs De Ligt (Ajax). Seperti diberitakan media Italia dan Belanda, Juve bakal mengeluarkan kocek sebesar 70 juta euro.

Untuk memuluskan langkahnya, Juventus bersedia menggaji De Ligt sekitar 15-20 juta euro per tahun. Praktis, De Ligt akan kalah dari gaji Ronaldo di Juventus yang menerima 30 juta euro per tahun.

Selain itu, rumor kembalinya Paul Pogba ke Juventus tersiar di media. Sang pemain lebih memilih balik ke Turin ketimbang gabung dengan Real Madrid. Lantas, Juventus pun harus berupaya mengganti rugi pengeluarannya.

Baca Juga: Dear Juventini, Kenali Kelebihan dan Kekurangan Sarri-Ball

Adapun langkah pertama Juventus yakni meningkatkan harga tiket terusan atau tiket musiman di Allianz Juventus. Tuttosport mengabarkan, Bianconeri secara rata-rata meningkatkan harga tiket musiman sebesar 10 persen. Adapun kenaikan terkecil ada di tribune timur sebesar 8,1 persen, sedangkan yang terbesar di tribun Est Centrale 1 (tribune tengah timur 1) sebesar 15,3 persen. 

Untuk Curva Nord dan Curva Sud yang biasanya diisi oleh Ultras mengalami kenaikan sebesar 9,2 persen dari 595 euro menjadi 650 euro. Tercatat musim lalu, Juventus menjual habis 29.300 tiket musiman dan tiket premium.

Langkah kedua, Juventus akan merencanakan penjualan beberapa pemain yang kurang bisa mendapatkan waktu reguler musim lalu. Direktur Olahraga Juventus, Fabio Paratici, kabarnya bertandang ke Inggris untuk berdiskusi mengenai rencana penjualan wing back, Joao Cancelo ke Manchester City.

Juventus berencana ingin melepas Cancelo di angka 55 juta euro. Langkah ini dilakukan untuk menutup biaya pembelian Cancelo dari Valencia musim panas lalu yang mencapai 40,4 juta euro. Sayangnya, Man City dibilang tak ingin menawar sebesar itu, tim asuhan Pep Guardiola itu ingin memasukkan nama Danilo untuk tukar tambah.

Kini langkah Juventus kian terjepit jikalau tak bergerak cepat di lantai bursa transfer. Selain mendatangkan pemain, mereka juga harus menjual beberapa pemainnya, kabarnya ada nama Mario Mandzukic, Juan Cuadrado, Sami Khedira hingga Mattia Perin.

Menurut Sportingintelligence, Juventus musim lalu merupakan klub yang mengeluarkan gaji paling besar di Serie A dengan rata-rata 6,7 juta Euro. Namun, kabar baiknya, di Liga Chmpions, mereka mampu meraup keuntungan sebesar 89 juta Euro mengalahkan pendapatan Liverpool selaku juara yang mendapatkan 33, 5 juta Euro.

Namun masih saja, Juventus tetap dituntut untuk patuh dengan aturan UEFA soal Financial Fair Play. Dimana setiap tim di Eropa wajib menyeimbangkan neraca keuangan, dengan harus hitung-hitungan dulu sebelum membeli pemain. Apabila 'kebablasan' alias tak sesuai rencana keuangan, maka bisa melanggar FFP yang sudah barang tentu hukuman menanti di musim berikutnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Dari berbagai sumber
Editor
Widji Ananta
Penulis
Tatang Adhiwidharta
Category
Olahraga

Berita Terkait: