Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

DPR Dukung Pembangunan Kampus STEM dan Kedokteran, Tekankan Pentingnya Karakter Bangsa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

DPR Dukung Pembangunan Kampus STEM dan Kedokteran, Tekankan Pentingnya Karakter Bangsa
Foto: (Sumber: Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih. ANTARA/HO-Humas DPR RI)

Pantau - Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyatakan bahwa pembangunan kampus berbasis science, technology, engineering, and mathematics (STEM) dan kedokteran merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi nasional.

Menurut Fikri, langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan mendesak Indonesia dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia agar lebih kompetitif di kancah global.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai indikator pendidikan internasional masih menempatkan Indonesia pada posisi yang belum memuaskan.

“Langkah ini logis diambil, mengingat berdasarkan World University Ranking, perguruan tinggi terbaik di Indonesia saat ini baru mampu menempati peringkat 189 dunia, sehingga diperlukan intervensi standar internasional yang konkret untuk mengejar ketertinggalan tersebut,” jelasnya.

Indonesia Masih Tertinggal dalam Indikator Global

Fikri merujuk data UNESCO yang menempatkan kualitas pendidikan Indonesia di peringkat 10 dari 14 negara berkembang.

Sementara itu, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dari OECD menunjukkan Indonesia berada di peringkat 70 dari 74 negara dalam literasi, numerasi, dan sains.

Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm untuk segera melakukan modernisasi sistem pendidikan dengan pendekatan STEM dan kurikulum berstandar global.

Namun demikian, ia mengingatkan agar modernisasi tersebut tidak melupakan aspek karakter, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa.

Pendidikan Harus Berbasis Jati Diri Bangsa

Fikri menegaskan bahwa pendidikan nasional tidak boleh hanya mengejar pengakuan global, tetapi tetap harus berlandaskan jati diri bangsa.

Ia mengacu pada Pasal 31 ayat 3 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

“Hal ini perlu ditegaskan di tengah kompetisi dan standardisasi kurikulum global yang semakin ketat,” tambahnya.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengawal arah kebijakan pendidikan nasional agar tetap mencerminkan karakter Indonesia.

"Pendidikan ke depan tidak boleh mereduksi potensi bangsa kita yang unggul di bidang budaya dan karakter budi luhur yang justru tidak dimiliki bangsa lain," ujarnya.

Prabowo Komit Bangun 10 Kampus Baru dan Jalin Kerja Sama dengan Inggris

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan komitmennya untuk membangun sepuluh kampus baru di bidang kedokteran dan STEM.

Komitmen ini juga mencakup program pertukaran dosen dari Inggris dalam kerangka kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Inggris.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa kerja sama pendidikan tersebut dijajaki Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan pimpinan dari 24 universitas terkemuka di Inggris dalam forum UK–Indonesia Education Roundtable di Lancaster House, London, Inggris, pada 20 Januari 2026.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti