Forgot Password Register

INDEF: Polemik Kenaikkan Harga BBM Bukti Pemerintah Tak Antisipatif

INDEF: Polemik Kenaikkan Harga BBM Bukti Pemerintah Tak Antisipatif Pengisian BBM. (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Harga minyak dunia masih berada di kisaran USD 70 perbarel jauh diatas proyeksi APBN sebesar USD 48 dolar perbarel.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati (INDEF) menilai hal ini akan sangat berpengaruh pasalnya Indonesia masih sangat tergantung pada impor sektor minyak.

"Kita hampir 50 persen tergantung impor BBM suplainya nah artinya kalau terjadi kenaikan harga minyak dunia hampir 2 kali lipat dari asumsi yang ada di APBN kita ini tentu mempengaruhi langsung cost production BUMN yang menyediakan ini termasuk Pertamina dan PLN yang sumber bakunya 50 persen energi fosil ini," ujarnya di ITS Tower, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).

Baca juga: Pasca Pilkada, Kondisi Ekonomi Belum Berikan Sinyal Perbaikan

Hal ini akhirnya mendorong pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM l non subsidi jenis Pertamax. Namun di sisi lain pemerintah masih menahan kenaikkan harga BBM bersubsidi.

"Pemerintah sudah ada komitmen sampai dengan 2019 tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi dan tarif dasar listrik. Sekarang kalau sudah tahu persis di samping harga minyak mentah naik dan rupiah terdepresiasi ini kan dua variabel yang sangat berpengaruh langsung terhadap harga ekonomi produksi," ungkapnya.

Hal ini menurutnya akan membuat pembiayaan perusahaan Pertamina dan PLN bengkak dan secara jangka panjang akan memberikan resiko terhadap perekonomian.

"Kalau pemerintah gak mau tahu, lalu siapa yang menanggung biaya kenaikan ekonomi dari pertamina dan pln. Ini kan sama2 risiko terhadap ekonomi. Kalau masyarakat tidak merasa terbebani atas kenaikan tapi kinerja BUMN strategis bermasalah ini kan akan membuat suatu dampak jangka panjang lalu siapa yang nantinya bisa menjadi penopang energi untuk ketersediaan untuk masyarakat? Artinya harus ada solisi segera," ungkapnya.

Menurutnya, solusi tersebut di sisi lain juga harus mampu menenangkan pasar. Meski BBM non subsidi jenis Petralite tidak mengalami kenaikan namun menurutnya akan berpengaruh pada psikologis pasar.

Baca juga: Kenaikan Dolar Mulai Terasa, Barang Bangunan Impor Mulai Naik

"Solusi segera itu harus mampu menenangkan pasar. Sekarang pertalite yang tidak naik itu tidak bisa mengerem dampak psikologis masy ketika pertamax sudah naik. Bagaimana menenangkan ekspetasi masyarakat bahwa tidak ada kenaikan petralite dan lain-lain," ungkapnya.

Lebih lanjut ia menilai pemerintah tidak antisipatif terhadap kemungkinan yang terjadi terutama mengenai perkembangan harga minyak.

"Kalau pemerintah antisipatif mestinya ketika pemerintah di awal 2015 mau mangkas subsidi waktu harga minyak turun, harusnya mumpung minyak turun dan subsidi turun maka segera anggaran yang sebelumnya utk bbm itu dikonversi ke peningkatan ketersediaan energi-energi alternatif. Ini tidak ada seolah-olah kondisinya akan semakin baik dan selalu baik," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More