Forgot Password Register

Headlines

Istimewa! Kids Zone Istora Senayan, Tempat Anak ‘Bermain’ Coding

Kid Zone di Istora Senayan. (Foto: Pantau.com/ Reza Saputra) Kid Zone di Istora Senayan. (Foto: Pantau.com/ Reza Saputra)

Pantau.com - Gelaran turnamen Blibli Indonesia Open 2018 ternyata tidak hanya menyajikan aksi-aksi para pebulu tangkis dunia saling unjuk gigi. Turnamen dengan total hadiah mencapai Rp17 miliar ini ternyata juga digunakan untuk sarana edukasi kepada anak-anak yang hadir ke kawasan Istora Senayan, Jakarta.

Seperti misalnya arena Kids Zone yang sengaja disediakan pihak penyelenggara Blibli Indonesia Open 2018. Terletak di sisi kiri dari pintu masuk Istora, Kids Zone menghadirkan tiga arena bermain yang dikhususnya untuk anak-anak.

Baca Juga: Kekurangan di Balik Kemegahan Istora Senayan

Salah satu yang menarik perhatian ialah kehadiran both Makeblock Indonesia di Kids Zone tersebut. Di mana Makeblock mencoba memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai program robot menggunakan smartphone.

“Kami diminta untuk sharing mengenai robotic dan edukasi kepada anak-anak. Jadi anak-anak akan belajar mengenai robot, belajar coding dengan menggunakan smartphone. Jadi tidak hanya bermain, tetapi juga belajar,” ungkap CEO Makeblock Indonesia Erwin Octavia kepada Pantau.com, Minggu (8/7/2018).

(Anak-anak asyik bermain gawainya/Foto: Pantau.com/Reza Saputra)

Erwin mengaku senang karena antusias anak-anak Indonesia terhadap dunia robotik ternyata cukup besar. Ia pun berharap, robotik dapat menjadi kurikulum wajib terutama di sekolah dasar di Indonesia.

“Ada beberapa anak yang tidak memiliki basik pemprograman di sekolah, tapi mereka cepat belajarnya. Semoga pemprograman bisa menjadi kurikulum di sekolah Indonesia,” ujarnya.



Salah satu pengunjung, Sean Faris juga mengaku senang dengan bisa menjajal coding dengan menggunakan smartphone. Meski ia mengatakan sempat kesulitan karena instruksi di smartphone menggunakan Bahasa Inggris.

“Seru. Tapi belajar maju, mundur, belok kanan-kiri. Awalnya gampang tapi pas terakhirnya susah. Pas mau berhenti. Udah gitu pakai bahasa Inggris jadi susah. Tapi mas-masnya memberi tahu bahasa Indonesianya,” ujar Faris.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More