Pantau Flash
Menpora Malaysia Sanjung Gojek Bantu Ekosistem e-Commerce Negaranya
BNPB: Kualitas Udara di Sumsel, Jambi, dan Riau Sangat Tidak Sehat
F1 Bakal Digelar di Miami pada Musim 2021
OJK: Kehadiran Palapa Ring Bisa Percepat Industri Fintech di Indonesia
Kementan Dorong Kawasan Perbatasan Jadi Lumbung Beras dan Ekspor

Pemerintah Zimbabwe Naikkan Tarif Listrik hingga 320 Persen

Headline
Pemerintah Zimbabwe Naikkan Tarif Listrik hingga 320 Persen Listrik di Zimbabwe. (Foto: Reuters/PHILIMON Bulawayo)

Pantau.com - Pemerintah Zimbabwe menaikkan tarif rata-rata listrik sebesar 320 persen atau sekitar empat kali lipat. Kenaikan tarif itu bertujuan untuk membuat perusahaan listrik negara meningkatkan jumlah produksi dan persediaan listrik.

Keputusan di tengah kebijakan pemadaman listrik harian bergilir itu disampaikan oleh pejabat pemerintah dalam bidang energi nasional pada Rabu (9/10/2019).

Pemadaman bergilir  hingga 18 jam diberlakukan termasuk bagi pertambangan, industri, dan perumahan, serta dengan dibarengi kekeringan itu dirujuk sebagai salah satu alasan utama menyusutnya ekonomi Zimbabwe hingga enam persen pada tahun ini.

Lembaga Pengatur Energi Zimbabwe menyatakan bahwa pihaknya telah menyetujui permohonan kenaikan tarif dari Perusahaan Penyalur Listrik Zimbabwe (ZETDC: Zimbabwe Electricity Transmission and Distribution Company).

Kenaikan tarif tersebut dari sebelumnya 38,61 sen Zimbabwe menjadi 162,16 sen. Kenaikan tersebut merupakan yang kedua kali dalam tiga bulan setelah kenaikan pertama diberlakukan pada Agustus.

Baca juga: Jonan: Listrik Tumbuh Hampir 40 Persen dalam 5 Tahun Terakhir

Lembaga Pengatur Energi Zimbabwe berdalih kenaikan tarif diperlukan setelah inflasi naik tinggi, sebagaimana badan keuangan dunia, IMF, menyebut inflasi sekitar 300 persen pada Agustus. Selain itu, nilai mata uang dollar Zimbabwe juga terperosok.

Dengan tarif baru itu, ZETDC bisa menambah biaya untuk perbaikan generator miliknya dan membayar generator impor dari perusahaan listrik Eskom dan Mozambik.

Bagaimana pun, kenaikan sangat tinggi pada biaya listrik akan menyulut kemarahan masyarakat Zimbabwe yang pada pekan sebelumnya mengalami kenaikan yang juga tinggi pada harga bahan bakar dan bahan pokok.

Belum lagi gaji yang tidak turun sesuai jadwal mendorong mereka menyalahkan kebijakan Presiden Emmerson Mnangagwa atas krisis ekonomi terparah dalam satu dekade terakhir.

Harapan bahwa keadaan ekonomi Zimbabwe akan kembali membaik dengan cepat di bawah pemerintahan Mnangagwa ternyata sirna seketika setelah masyarakat harus berjuang dengan inflasi tinggi yang mengikis pendapatan dan simpanan mereka. Mnangagwa menjadi presiden menggantikan Robert Mugabe yang dikudeta pada November 2017 lalu.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Nani Suherni
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ekonomi

Berita Terkait: