Pantau Flash
43 Orang Tewas Setelah Si Jago Merah Lalap Gedung 6 Lantai
Zulkifli Hasan: Jualan Surga dan Negara Sudah Tidak Laku di Pilpres
Catat! Tol Layang Japek II Tidak Ada Rest Area dan Pom Bensin
Erick Thohir Tunjuk Eks Menkeu Chatib Basri Jadi Wakomut Bank Mandiri
SEA Games 2019: Kontingen Indonesia Lampaui Target Jokowi

Penyelidikan Penembakan Brutal di Masjid Christchurch Dimulai

Penyelidikan Penembakan Brutal di Masjid Christchurch Dimulai Doa Selandia BAru untuk korban penembakan di Christchurch. (Foto: AP/Vincent Thian via ABC News)

Pantau.com - Penyelidikan mengenai pembantaian di masjid Christchurch memulai dengar pendapat mengenai bukti, saat Perdana Menteri Jacinda Ardern bersiap memimpin pertemuan di Perancis yang mengupayakan dukungan bagi penanggulangan kekerasan secara online.

Penembakan brutal itu menewaskan 51 orang di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret lalu. Sementara ia menyiarkan langsung aksinya di Facebook. Itu adalah penembakan terburuk dalam sejarah Selandia Baru.

Penyelidikan Komisi Kerajaan Selandia Baru akan memeriksa kegiatan tersangka lelaki bersenjata tersebut, penggunaan media sosial dan hubungan internasional, serta apakah ada suasana prioritas yang tidak layak dalam penanggulangan sumber terorisme.

"Temuan komisi ini akan membantu memastikan serangan semacam itu tak pernah terjadi lagi di sini," kata Ardern di dalam satu pernyataan yang mengumumkan komisaris kedua bagi penyelidikan itu, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (13/5/2019).

Baca juga: Polisi Masih Berjaga di Masjid-masjid Selandia Baru Pasca Teror

Jejaring Komisi Kerajaan tersebut mengatakan akan mengumpulkan keterangan sampai Agustus. Komisi itu akan melaporkan temuannya kepada pemerintah pada 10 Desember.

Sebagian anggota masyarakat Muslim menyerukan hubungan yang lebih baik mengenai penyelidikan tersebut. "Banyak dari kami di dalam masyarakat Muslim belum menerima keterangan mengenai proses dengar-pendata itu jadi banyak di antara masyarakat kami sangat merasa tidak tahu apa-apa," kata advokat masyrakat Guled Mire, yang berpusat di Wellington.

"Akhirnya, kami ingin suara kami didengar dan tidak lagi diabaikan, sangat mengharapkan tindakan dilakukan guna menjamin informasi secara langsung disampaikan kepada anggota masyarakat Muslim," katanya.

Komisi Kerajaan tersebut belum menanggapi permintaan komentar. Ardern berada di Paris pekan ini untuk secara bersama memimpin satu pertemuan dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu, yang berusaha memimpin pemimpin dunia dan pemimpin perusahaan teknologi menandatangani "Christchurch Call", janji untuk menghapuskan isi ekstremis kekerasan dan teroris di Internet.

Di dalam satu artikel opini di The New Yorks Times pada Sabtu, Ardern mengatakan "Christchurch Call" akan secara sukarela menjadi kerangka kerja yang membuat para penandatangannya berkomitmen untuk melakukan langkah khusus guna mencegah pengunggahan isi teroris.

Baca juga: Jumlah Korban Tewas Penyerangan Masjid di Christchurch Jadi 51 Orang

"Ini bukan mengenai meremehkan atau membatasi kebebasan berbicara. Ini adalah mengenai perusahaan-perusahaan ini dan bagaimana mereka beroperasi," kata Ardern di dalam kolomnya.

Wakil dari Facebook, Google, Twitter dan perusahaan teknologi lain direncanakan menjadi bagian dari pertemuan tersebut, walaupun pemimpin Facebook Mark Zuckerberg takkan hadir.

Facebook mengatakan Nick Clegg, mantan wakil perdana menteri Inggris, dan saat ini menjadi Wakil Presiden Facebook Urusan Global dan Komunikasi, akan menghadiri pertemuan itu.

"Ini adalah masalah yang rumit dan kami berkomitmen untuk bekerjasama dengan pemimpin dunia, pemerintah, ahli keselamatan dan industri dalam pertemuan pekan ini dan setelahnya mengenai kerangka kerja yang jelas mengenai paraturan guna membantu menjaga keselamatan manusia dari bahaya," kata Klegg pada Reuters.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: