
Pantau - Film Sinners garapan sutradara Ryan Coogler mencetak sejarah sebagai film karya sutradara berkulit hitam yang meraih penghargaan terbanyak dalam ajang BAFTA Film Awards 2026.
Dalam ajang BAFTA ke-79 yang digelar di London, Inggris, Minggu 22 Februari waktu setempat, film yang masuk dalam 13 nominasi tersebut berhasil membawa pulang tiga piala topeng perunggu.
Berdasarkan laporan People, Sinners memenangkan penghargaan untuk skenario orisinal terbaik, musik orisinal terbaik, dan aktris pendukung terbaik yang diraih oleh Wunmi Mosaku.
Ryan Coogler yang berusia 39 tahun tercatat sebagai sutradara berkulit hitam pertama yang meraih penghargaan untuk skenario orisinal terbaik dalam sejarah ajang tersebut.
Dalam pidatonya, Coogler mengatakan, "Mereka membuat saya percaya bahwa saya bisa melakukan ini, bahwa saya bisa menjadi seorang penulis. Dan sungguh luar biasa diterima di komunitas aktor film, komunitas Los Angeles,".
Ia juga menambahkan, "Saya akan selamanya berterima kasih untuk ini, terima kasih semuanya,".
Sebelum Sinners, film 12 Years a Slave karya Steve McQueen menjadi film sutradara berkulit hitam yang paling banyak meraih penghargaan di BAFTA.
Pada tahun 2014, 12 Years a Slave memenangkan dua penghargaan, yakni film terbaik dan aktor utama terbaik yang diraih oleh Chiwetel Ejiofor.
Film Sinners mengisahkan Smoke dan Stack yang diperankan Michael B. Jordan sebagai saudara kembar dari Clarksdale, Mississippi, yang kembali ke kampung halaman setelah bekerja dengan mafia di Chicago dan berusaha membuka klub malam.
Mereka kemudian merekrut sepupu mereka Sammie yang diperankan Miles Caton dan mantan kekasih Stack, Mary, yang diperankan Hailee Steinfeld untuk membantu menjalankan klub tersebut.
Cerita berkembang ketika mereka justru berhadapan dengan vampir, simbolisme kuat, serta adegan tari Irlandia yang emosional.
Wunmi Mosaku yang berperan sebagai penyihir bernama Annie mengaku, "menemukan bagian dari dirinya" dalam karakter tersebut.
Ia menjelaskan, "Sebagian dari harapan saya, kekuatan dan koneksi leluhur saya, bagian dari diri saya yang saya pikir telah hilang atau saya coba redupkan sebagai imigran yang mencoba untuk menyesuaikan diri,".
Ia juga menambahkan, "Melalui dirinya, saya memperdalam keyakinan saya pada potensi saya, kapasitas saya untuk mencintai dan berharap di saat tergelap dalam duka dan dalam menghadapi dunia yang keras ini,".
- Penulis :
- Aditya Yohan








