
Pantau - Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp243,41 triliun, lebih rendah dibandingkan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang sebesar Rp255,5 triliun.
Harga Komoditas Menurun Jadi Penyebab Turunnya PNBP
Penurunan capaian ini disebabkan oleh tren menurunnya harga komoditas global yang berdampak langsung terhadap pendapatan negara dari sektor ESDM.
"Harganya memang lagi turun. Harga komoditas sekarang lagi turun semua," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025, Kamis (8/1/2026) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Sebagai contoh, harga batu bara acuan (HBA) periode I Januari 2026 tercatat sebesar 103,30 dolar AS per ton, lebih rendah dibandingkan HBA Februari 2025 yang sebesar 124,24 dolar AS per ton.
Harga nikel juga mengalami penurunan, dari 15.660 dolar AS per dry metric ton (dmt) pada Januari 2025 menjadi 14.630 dolar AS per dmt pada periode I Januari 2026.
Penurunan harga komoditas ini memengaruhi berbagai subsektor dalam sektor ESDM, terutama migas yang mencatatkan pendapatan di bawah target.
Subsektor Minerba Lampaui Target, Sektor Migas Tertinggal
Meskipun terjadi penurunan secara keseluruhan, PNBP subsektor mineral dan batu bara (minerba) serta panas bumi justru mencatatkan capaian positif, dengan total pendapatan sebesar Rp138,37 triliun.
Capaian ini setara 108,56 persen dari target APBN yang ditetapkan sebesar Rp127,44 triliun.
"Di saat harga komoditas lagi jatuh, batu bara harganya tidak terlalu menggembirakan, tapi alhamdulillah target dari PNBP di sektor minerba itu mencapai 108,56 persen," kata Bahlil.
Sementara itu, sektor migas tidak mampu mencapai target PNBP yang ditetapkan.
Pendapatan dari sektor migas hanya mencapai Rp105,04 triliun, atau 83,7 persen dari target APBN sebesar Rp125,46 triliun.
Bahlil menyebut bahwa kegagalan mencapai target ini disebabkan oleh harga minyak bumi yang berada di bawah asumsi makro dalam APBN 2025.
"Namun kenyataannya, rata-rata harga minyak dunia sejak Januari–Desember itu 68 dolar AS, harganya tidak sampai 82 dolar AS. Itu berdampak pada pendapatan negara kita," ujarnya.
- Penulis :
- Shila Glorya








