Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah Dipicu Kekhawatiran Perubahan Metodologi Free Float oleh MSCI

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Melemah Dipicu Kekhawatiran Perubahan Metodologi Free Float oleh MSCI
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada penutupan perdagangan Jumat (23/1), seiring kekhawatiran pasar terhadap rencana perubahan metodologi free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

IHSG melemah 41,16 poin atau 0,46 persen ke posisi 8.951,00.

Sementara itu, Indeks LQ45 turut terkoreksi 1,51 poin atau 0,17 persen ke level 873,59.

Rencana MSCI Jadi Pemicu Tekanan Pasar

Pelemahan IHSG terutama dipicu oleh kekhawatiran investor atas rencana MSCI yang akan mengubah metodologi penghitungan free float untuk saham-saham Indonesia.

"Pelemahan IHSG antara lain dipicu oleh antisipasi penerapan metodologi MSCI untuk penghitungan free float saham-saham Indonesia yang dikhawatirkan akan berdampak pada tekanan jual oleh investor asing, terutama terhadap saham-saham yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau konglomerasi," ungkap seorang analis pasar modal.

MSCI tengah mengkaji penggunaan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam penghitungan free float.

Berbeda dengan data kepemilikan BEI yang hanya mencatat pemegang saham di atas 5 persen, laporan dari KSEI mencakup juga pemegang saham di bawah 5 persen.

Hal ini dinilai akan memberikan gambaran yang lebih akurat terhadap struktur kepemilikan publik, yang menjadi penting dalam proses inklusi saham-saham Indonesia ke dalam indeks global MSCI.

Masa pengumpulan masukan publik untuk rencana ini telah ditutup pada 31 Desember 2025.

Hasil konsultasi dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026, dan apabila disetujui, metodologi baru akan mulai diberlakukan saat review indeks MSCI pada Mei 2026.

Bursa Asia Menguat, IHSG Tetap di Zona Merah

Meskipun mayoritas bursa saham regional Asia ditutup menguat, IHSG tetap bergerak di zona negatif sejak awal perdagangan hingga penutupan sesi kedua.

Indeks Nikkei Jepang naik 108,70 poin atau 0,20 persen ke 53.797,60 setelah Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen menjelang Pemilu Jepang pada 8 Februari 2026.

Indeks Shanghai menguat 13,58 poin atau 0,33 persen ke posisi 4.136,16.

Indeks Hang Seng bertambah 119,54 poin atau 0,45 persen ke 26.749,50.

Indeks Strait Times juga menguat signifikan sebesar 63,13 poin atau 1,31 persen ke level 4.891,45.

Imbas keputusan BoJ, yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 40 tahun turun 4 basis poin menjadi 3,953 persen, sementara yield tenor lebih pendek tercatat naik.

Rinciannya: Sektor dan Saham yang Terkoreksi

Dari sembilan sektor yang melemah berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor transportasi dan logistik mencatat penurunan terdalam sebesar 2,23 persen.

Disusul sektor barang konsumen non-primer yang turun 2,17 persen dan sektor industri yang terkoreksi 1,57 persen.

Hanya dua sektor yang mencatatkan penguatan, yaitu sektor kesehatan yang naik 0,83 persen dan sektor infrastruktur yang menguat tipis 0,12 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar adalah RMKO, BAIK, LPCK, TOOL, dan JAST.

Sedangkan saham-saham yang terkoreksi paling dalam antara lain PTRO, ZATA, DAAZ, MPPA, dan MAHA.

Total frekuensi transaksi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.319.645 kali.

Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 64,15 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp32,04 triliun.

Sebanyak 191 saham ditutup naik, 495 saham melemah, dan 118 saham stagnan.

Penulis :
Arian Mesa