
Pantau - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini bahwa fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 milik PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat, akan memperkuat ekosistem industri baja nasional dari hulu ke hilir serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Teknologi Canggih Dorong Daya Saing dan Industri Hijau
Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo, menyatakan bahwa proyek CGL 2 menggunakan mesin dan teknologi dari Tenova, Italia, yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri baja secara menyeluruh.
"Dengan adanya Project CGL 2 ini yang menggunakan mesin dan teknologi dari Tenova, Italia, kami berharap akan terjadi suatu penguatan ekosistem hulu-hilir yang juga akan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Sehingga bisa meningkatkan daya saing industri nasional," ungkapnya saat acara groundbreaking Kirin Project di Purwakarta pada Senin.
Fasilitas ini menggunakan teknologi pelapisan baja secara menerus dengan basis zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, yang mampu meningkatkan usia pakai baja hingga empat kali lipat.
CGL 2 juga dilengkapi dengan burner berbasis hidrogen yang rendah emisi, sehingga mendukung arah pengembangan industri hijau di Indonesia.
"Proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal," ia mengungkapkan.
Dukung Kemandirian Industri Baja Nasional
VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menjelaskan bahwa pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat industri antara (midstream) baja nasional.
Menurutnya, industri antara memiliki peran penting sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir, serta krusial dalam memperkuat rantai pasok.
"Jika sektor ini tidak kompetitif, maka rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan terhadap impor akan tetap tinggi," jelasnya.
PT Tata Metal Lestari kini tidak hanya memenuhi kebutuhan baja dalam negeri, tetapi juga telah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki standar kualitas tinggi.
Fasilitas CGL 2 akan memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun, menambah kapasitas total produksi perusahaan menjadi 500 ribu ton per tahun jika digabungkan dengan produksi dari CGL 1 di Cikarang.
Pembangunan fasilitas ini juga merupakan bagian dari peta jalan perusahaan untuk mencapai kapasitas terpasang sebesar 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.
Proyek ini mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan mendorong produk Made in Indonesia agar mampu bersaing secara global.
Dukungan Pemerintah melalui Kebijakan Strategis
Untuk mendorong pertumbuhan industri baja nasional, Kemenperin terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis.
Kebijakan tersebut mencakup penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.
- Penulis :
- Leon Weldrick







