Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis, Pasar Tunggu Hasil FOMC dan Sikap The Fed terhadap Tekanan Politik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat Tipis, Pasar Tunggu Hasil FOMC dan Sikap The Fed terhadap Tekanan Politik
Foto: (Sumber: Arsip foto - Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026, tercatat menguat tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan bahwa penguatan rupiah ini bersifat terbatas karena investor cenderung menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat.

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang masih dalam tekanan namun penguatan mungkin terbatas (seiring) investor juga wait and see hasil FOMC besok (Rabu 28/1)", ujarnya.

Dolar AS Tertekan, Investor Tunggu Nada The Fed

Mengutip laporan Anadolu, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen dalam pertemuan pertamanya di tahun 2026.

Sebelumnya, FOMC telah memangkas suku bunga sebanyak total 75 basis poin (bps) selama tiga bulan berturut-turut pada September, Oktober, dan Desember 2025.

Kebijakan pemangkasan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik, termasuk desakan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka meminta The Fed untuk memangkas suku bunga lebih agresif.

Pemerintah AS juga dikabarkan tengah melakukan penyelidikan atas dugaan tindakan kriminal oleh Ketua The Fed, Jerome Powell.

"Yang dinantikan investor adalah sikap/nada dari pernyataan Kepala The Fed apakah hawkish atau dovish. Investor mungkin mengharapkan The Fed akan dovish merespons perkembangan geopolitik belakangan ini yang kurang begitu baik. Kalau dovish, dolar AS akan terus melemah, hal ini akan mengurangi beban terhadap rupiah", kata Lukman.

Dinamika Politik Domestik dan Independensi BI Jadi Sorotan

Selain faktor eksternal, potensi penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh situasi politik dalam negeri, terutama setelah terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Status Thomas sebagai keponakan Presiden RI Prabowo Subianto menimbulkan kekhawatiran di kalangan pasar terhadap independensi Bank Indonesia ke depan.

Thomas merupakan kandidat terakhir yang mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI, bersaing dengan dua calon dari internal BI, yakni Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro.

Setelah proses uji kelayakan pada Senin sore, 26 Januari 2026, Komisi XI menggelar rapat internal dan memutuskan memilih Thomas Djiwandono menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026.

Keputusan tersebut akan dibawa ke dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa, 27 Januari 2026 untuk memperoleh persetujuan resmi dari pimpinan DPR.

Penulis :
Ahmad Yusuf