Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat Seiring Kepastian Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed yang Akan Longgar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat Seiring Kepastian Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed yang Akan Longgar
Foto: (Sumber: Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.)

Pantau -  Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026, seiring kepastian arah kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat yang diperkirakan akan longgar.

Rupiah tercatat menguat sebesar 36 poin atau 0,21 persen dari posisi sebelumnya Rp16.768 per dolar Amerika Serikat menjadi Rp16.732 per dolar Amerika Serikat.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyampaikan penguatan rupiah dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar global menjelang rapat The Fed.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.710 sampai Rp16.770 dipengaruhi oleh global melemahnya indeks dolar menjelang rapat The Fed besok waktu Amerika Serikat," kata Rully Nova.

Ia menjelaskan meskipun The Fed diperkirakan tidak mengubah suku bunga acuan, arah kebijakan ke depan dipastikan akan longgar.

Federal Reserve diprediksi mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen pada pertemuan pertama tahun 2026.

Sebelumnya, FOMC telah memangkas suku bunga Fed secara total sebesar 75 basis poin pada September, Oktober, dan Desember 2025.

Pemangkasan tersebut terjadi di tengah tekanan politik dan perselisihan hukum yang melibatkan bank sentral Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali meminta The Fed menurunkan suku bunga.

Pemerintah Amerika Serikat juga menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell sebagai bagian dari upaya menekan bank sentral.

Sentimen lain berasal dari ketidakjelasan kebijakan tarif Amerika Serikat, termasuk rencana tarif 100 persen terhadap ekspor Kanada.

Ancaman tarif resiprokal serta kenaikan bea masuk otomotif Korea Selatan dari 15 persen menjadi 25 persen turut memicu ketidakpastian.

"Ketidakpastian menimbulkan aksi lepas dolar oleh pelaku pasar," ujar Rully Nova.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia memberikan dukungan kuat terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis rupiah akan menguat secara fundamental.

Ia menyebut penguatan tersebut didukung inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, serta imbal hasil investasi yang masih menarik.

Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi bersifat jangka pendek.

Salah satu faktor jangka pendek berasal dari inflasi akibat kenaikan harga pangan.

Kenaikan harga pangan dipicu cuaca ekstrem dan bencana alam yang mengganggu distribusi komoditas.

Bank Indonesia telah menurunkan BI Rate sebanyak lima kali sejak September 2024.

Saat ini, BI Rate berada di level 4,75 persen.

Penurunan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia juga tetap membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan.

Selain kebijakan suku bunga, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar Non Deliverable Forward luar negeri di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.

Intervensi juga dilakukan di pasar tunai dalam negeri melalui pasar spot dan Domestic Non Deliverable Forward.

Penulis :
Ahmad Yusuf