Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pemerintah Pastikan Tidak Akan Naikkan HET Minyakita Meski Harga CPO Dunia Meningkat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Pemerintah Pastikan Tidak Akan Naikkan HET Minyakita Meski Harga CPO Dunia Meningkat
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menanggapi pertanyaan awak media di Kantor Kemendag RI, Jumat 6/2/2026 (sumber: ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)

Pantau - Pemerintah memastikan belum ada rencana untuk menaikkan harga eceran tertinggi (HET) Minyakita, meskipun harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) global sedang mengalami tren kenaikan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan untuk mengubah HET Minyakita.

"Ya sebenarnya itu (Minyakita) sudah lama, ya. Sementara kan harga CPO juga terus (naik), tapi memang kita belum, ya, belum ada rencana untuk menaikkan HET-nya," ungkapnya.

Distribusi Lewat BUMN Jadi Fokus Pemerintah

Pemerintah saat ini memprioritaskan kelancaran distribusi Minyakita agar harga tetap stabil di pasaran.

Harga Minyakita kini berada di kisaran Rp16.200 per liter, menurun dari harga sebelumnya sebesar Rp16.800 per liter.

Distribusi dilakukan melalui penguatan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan, seperti Bulog dan IDFOOD.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025, produsen minyak goreng yang terikat kewajiban pasar domestik (domestic market obligation/DMO) diwajibkan menyalurkan minimal 35 persen produksi mereka ke Bulog atau IDFOOD.

Bulog dan IDFOOD kemudian menyalurkan Minyakita langsung ke pengecer tanpa perantara distributor lain, guna memangkas rantai pasok dan menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.

"Sekarang memang belum tercapai 35 persen, masih di bawah 30 persen karena memang proses. Ini proses mereka sebenarnya, proses B2B (business-to-business) antara BUMN Pangan dengan para produsen. Produsen pun sangat mendukung program ini," ia mengungkapkan.

Second Brand Jadi Alternatif Minyakita

Pemerintah juga mendorong produsen untuk meningkatkan produksi second brand sebagai alternatif Minyakita, guna menjamin ketersediaan pasokan dan kestabilan harga, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

"Minyak-minyak second brand ini juga nanti atau sekarang itu sudah dipasarkan di pasar rakyat sebenarnya. Jadi harapan kita itu banyak pilihan. Kita ingin (masyarakat) banyak pilihan, karena Minyakita itu sifatnya terbatas karena DMO tadi. Kita ingin ada pilihan-pilihan lain yang harganya terjangkau oleh masyarakat," jelas Budi.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa bergantung sepenuhnya pada Minyakita karena produk ini hanya berfungsi sebagai instrumen intervensi pasar.

"Jadi saya sampaikan tadi Minyakita itu sebenarnya waktu itu (tiga tahun lalu) memang sifatnya hanya untuk intervensi pasar," ungkapnya.

Penulis :
Leon Weldrick