
Pantau - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menargetkan nilai transaksi Program Friday Mubarak 2026 mencapai Rp119 triliun guna memperkuat konsumsi domestik dan menjaga stabilitas harga menjelang
Program Friday Mubarak 2026 digelar mulai 11 Februari hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan sekitar 200 perusahaan ritel di seluruh Indonesia.
Ketua Umum Aprindo Solihin menyatakan Friday Mubarak 2026 merupakan kontribusi nyata sektor ritel dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun.
“Friday Mubarak 2026 kami posisikan bukan hanya sebagai program promosi, tetapi sebagai gerakan bersama untuk memperkuat konsumsi domestik dan menjaga stabilitas harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H," ujarnya.
Dorong Konsumsi dan Stabilitas Harga
Solihin menambahkan bahwa di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, penguatan konsumsi dalam negeri menjadi strategi utama menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Ia menyebut sektor ritel harus hadir sebagai mitra aktif pemerintah dalam memastikan distribusi berjalan lancar serta menjaga daya beli masyarakat.
“Target capaian transaksi nasional hingga Rp119 triliun pada penutup program diharapkan menjadi dorongan nyata bagi konsumsi domestik dan optimisme pelaku usaha. Angka ini bukan sekadar nilai transaksi, tetapi simbol kolaborasi dan kepercayaan bahwa sektor ritel mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.
Solihin menuturkan sektor ritel memegang peran strategis sebagai simpul distribusi nasional, penjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, serta penggerak utama konsumsi rumah tangga.
Momentum Ramadhan dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran lima persen dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 5,4 persen pada 2026.
Penguatan konsumsi domestik pada kuartal pertama dinilai menjadi faktor kunci menjaga momentum pertumbuhan tersebut.
"Ramadhan dan Idul Fitri menjadi periode penting yang mampu mendorong pergerakan ekonomi secara luas di berbagai daerah," ungkapnya.
Aprindo menekankan momentum Ramadhan tidak hanya menjadi lonjakan konsumsi jangka pendek, tetapi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang kuat sekaligus menjaga optimisme pelaku usaha serta kepastian harga dan pasokan bagi masyarakat.
"Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian, penguatan ekonomi domestik melalui konsumsi nasional menjadi strategi yang rasional dan berkelanjutan," tegasnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








