Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

BPDP Perkuat UKMK Berbasis Sawit untuk Bangun Citra Positif dan Dongkrak Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BPDP Perkuat UKMK Berbasis Sawit untuk Bangun Citra Positif dan Dongkrak Ekonomi
Foto: (Sumber: Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk "Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK" yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Majalah Hortus Archipelago di Depok, Jawa Barat, Kamis (19/2/2026). ANTARA/HO-BPDP.)

Pantau - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperkuat pengembangan usaha kecil, mikro, dan koperasi berbasis sawit sebagai strategi membangun citra positif industri sawit sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah menegaskan penguatan UKMK menjadi bagian dari tanggung jawab lembaga dalam membangun narasi positif tentang sawit.

“Kami punya tanggung jawab bagaimana membangun narasi yang positif terhadap sawit. Salah satunya melalui penguatan UKMK,” ujarnya.

Menurut Helmi, langkah tersebut menjadi jawaban atas berbagai kampanye negatif terhadap sawit seperti tudingan penyebab banjir, hilangnya habitat orangutan, hingga eksploitasi pekerja anak.

Ia menjelaskan kampanye positif sawit dibiayai dari pungutan ekspor produk sawit yang rata-rata mencapai Rp2 hingga Rp3 triliun per bulan.

“Dana itu dipungut dari ekspor, namun seluruhnya dikembalikan untuk program terkait sawit, seperti PSR (Peremajaan Sawit Rakyat), beasiswa, riset, serta pengembangan UKM atau UKMK,” katanya.

Kampanye Positif dan Pembinaan Generasi Muda

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk “Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK”.

Helmi menyebut intensitas kampanye positif sawit terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Kalau 2018 mungkin kalau kita klik UKMK sawit itu nggak ada mungkin ya. Tapi kalau sekarang, cari UKMK sawit di Google itu sudah sangat banyak sekali karena kita hampir setiap bulan bahkan setiap minggu ada kegiatan-kegiatan kita untuk mengampanyekan kebaikan-kebaikan sawit ini,” ungkapnya.

BPDP juga bekerja sama dengan Universitas Andalas dalam menggelar workshop kewirausahaan bagi mahasiswa, termasuk peserta asal Pasaman Barat yang mengikuti pelatihan pada masa pandemi COVID-19 2020 hingga 2021 dan pada 2025 berhasil menjadi eksportir lidi sawit.

“Memang nggak langsung menjadi pengusaha, 2025 dia sudah menjadi eksportir lidi sawit. Dia menggandeng ibu-ibu sebagai pemasok bahan baku untuk diekspor,” jelas Helmi.

Fasilitasi Pameran dan Hilirisasi Produk

BPDP turut memfasilitasi UKMK mengikuti pameran nasional seperti Inacraft dengan menanggung biaya booth, akomodasi, dan transportasi yang biasanya berkisar Rp19 juta hingga Rp24 juta.

“Biasanya kalau nggak dibawa, bayar sendiri Rp19 sampai Rp23 juta. Kalau dia menjadi anggotanya Inacraft Rp19 juta, kalau nggak menjadi anggota Rp24 juta untuk mendapatkan booth. Nah itu kemarin kita fasilitasi,” katanya.

Salah satu contoh keberhasilan adalah pengembangan batik dan lilin berbahan malam sawit oleh 60 hingga 70 ibu-ibu di Kulon Progo yang dibimbing alumni LPDP dan berkembang dari omzet ratusan juta menjadi miliaran rupiah.

“Sekarang sudah miliaran setelah kemudian mengembangkan batiknya dari sawit. Termasuk kemarin ikut kita bawa di pameran, itu transaksinya Rp55 juta selama dua hari atau tiga hari. Itu termasuk yang sangat laku di pameran Inacraft,” ujar Helmi.

Workshop yang diselenggarakan atas sinergi BPDP dan Majalah Hortus Archipelago tersebut menghadirkan unsur pemerintah, asosiasi pengusaha, dan pengelola dana sawit guna memperluas wawasan pelaku UKMK terhadap potensi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk turunan sawit.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Aditya Yohan