
Pantau - Hasil bumi berupa kulit manis (Cinnamomum) dari Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berhasil menembus pasar Eropa dan Malaysia setelah wilayah tersebut terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.
Komoditas rempah andalan masyarakat itu menjadi salah satu simbol kebangkitan ekonomi pascabencana yang sempat melumpuhkan aktivitas warga.
Pengepul setempat menyebut kulit manis dari Malalak dijual terlebih dahulu ke Bukittinggi sebelum diekspor ke pasar luar negeri.
Saat ini tersedia sekitar 2,5 ton kulit manis yang siap dipasarkan dengan harga di tingkat petani berkisar Rp30.000 per kilogram untuk kualitas rendah hingga Rp37.000–Rp40.000 per kilogram untuk kualitas terbaik.
Petani menilai harga tersebut belum sepenuhnya ideal meski menunjukkan perbaikan dibandingkan masa pandemi COVID-19 ketika harga sempat turun hingga Rp24.000 per kilogram.
Salah seorang petani menyebut tanaman kulit manis baru dapat dipanen setelah 7 hingga 15 tahun sehingga fluktuasi harga sangat memengaruhi pendapatan jangka panjang.
Banjir bandang yang melanda Malalak pada 26 November 2025 menyebabkan akses jalan menuju Bukittinggi terputus total sehingga aktivitas panen dan distribusi terhenti sekitar satu bulan.
Warga saat itu fokus pada pemulihan dan pencarian korban sebelum aktivitas ekonomi kembali berjalan.
Kini, dengan akses yang kembali tersambung dan permintaan ekspor yang meningkat, kulit manis kembali menjadi penggerak pemulihan ekonomi masyarakat setempat.
Petani berharap adanya perhatian pemerintah terhadap stabilisasi harga serta dukungan agar komoditas rempah unggulan tersebut semakin bernilai di pasar global.
- Penulis :
- Gerry Eka







