Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonomi Kreatif Mulai Menjadi Fondasi Baru Pertumbuhan Ekonomi di Nusa Tenggara Barat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonomi Kreatif Mulai Menjadi Fondasi Baru Pertumbuhan Ekonomi di Nusa Tenggara Barat
Foto: (Sumber : Sejumlah warga menenun kain tradisional Sasak saat mengikuti acara festival kerajinan tenun yang bertajuk Begawe Jelo Nyesek (kerajinan menenun masal) di Desa Sukarare, Kecamatan Jonggat, Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (8/7/2023).ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww..)

Pantau - Masa depan ekonomi Nusa Tenggara Barat dinilai tidak hanya bergantung pada sumber daya alam atau proyek infrastruktur besar, tetapi juga pada kemampuan daerah dalam memelihara dan mengembangkan kreativitas masyarakat sebagai aktivitas ekonomi baru.

Di berbagai desa di Nusa Tenggara Barat, aktivitas kreatif masyarakat telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan secara perlahan berkembang menjadi sumber penghasilan.

Pagi hari di sejumlah desa sering dimulai dengan kegiatan menenun menggunakan alat tenun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Di tempat lain, anak-anak muda terlihat memotret produk kerajinan untuk dipasarkan melalui media sosial sebagai bagian dari strategi pemasaran digital.

Sementara itu, di kawasan perkotaan, sejumlah ruang kerja kecil diisi oleh desainer grafis, kreator konten, hingga pengembang aplikasi yang bekerja menggunakan laptop.

Berbagai aktivitas tersebut memiliki kesamaan, yaitu kreativitas masyarakat yang mulai berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi kreatif mulai dipandang bukan sekadar pelengkap sektor pariwisata, tetapi juga sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi daerah.

Pemerintah juga menempatkan koridor Bali Nusa Tenggara sebagai kawasan superhub pariwisata dan ekonomi kreatif bertaraf internasional dalam visi pembangunan jangka panjang menuju tahun 2045.

Dalam konteks tersebut, Nusa Tenggara Barat berada pada posisi strategis karena memiliki kekayaan budaya sekaligus kreativitas masyarakat yang terus berkembang.

Daerah ini bahkan mulai diposisikan sebagai laboratorium kebijakan ekonomi kreatif nasional.

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah skema pembiayaan Kredit Usaha Rakyat bagi pelaku ekonomi kreatif.

Momentum ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan Nusa Tenggara Barat dalam menjadikan ekonomi kreatif sebagai fondasi masa depan ekonomi daerah.

Potensi Besar dari Tenun hingga Industri Kreatif Digital

Ekonomi kreatif pada dasarnya bertumpu pada ide manusia yang terus berkembang tanpa batas.

Dalam kerangka nasional, sektor ekonomi kreatif mencakup sedikitnya 17 subsektor yang mencakup kuliner, kriya, fesyen, film, musik, aplikasi digital, hingga pengembangan gim.

Di Nusa Tenggara Barat, potensi tersebut terlihat dari berbagai aktivitas ekonomi berbasis budaya dan kreativitas masyarakat.

Tenun tradisional di Lombok dan Sumbawa menjadi contoh nyata karena tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi ribuan keluarga.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, pemerintah daerah bahkan menyelenggarakan pelatihan pengembangan motif tenun selama 20 hari.

Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing di pasar.

Program tersebut tidak hanya mengajarkan teknik menenun, tetapi juga membuka peluang lahirnya desain baru dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Festival Budaya dan Desa Kreatif Dorong Ekonomi Lokal

Selain sektor kriya dan fesyen, perkembangan ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Barat juga terlihat melalui penyelenggaraan berbagai festival dan pameran produk lokal.

Kegiatan seperti Karya Kreatif NTB dan Lombok Sumbawa Tenun Festival menjadi contoh promosi budaya yang sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil.

Festival tersebut menampilkan berbagai produk tenun, bazar kriya, pertunjukan seni, serta pasar kuliner yang melibatkan banyak pelaku usaha lokal.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki dampak berantai yang luas mulai dari proses produksi hingga konsumsi.

Fenomena lain yang berkembang adalah munculnya desa-desa yang memanfaatkan budaya sebagai basis ekonomi kreatif.

Di beberapa wilayah Lombok, pembentukan museum desa menjadi salah satu contoh upaya memadukan pelestarian sejarah dengan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Penulis :
Ahmad Yusuf