Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

BPOM Membina 2.407 Pedagang Takjil Bermasalah setelah Temukan Ratusan Sampel Mengandung Formalin hingga Rhodamin B

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

BPOM Membina 2.407 Pedagang Takjil Bermasalah setelah Temukan Ratusan Sampel Mengandung Formalin hingga Rhodamin B
Foto: Tangkapan layar - Kepala BPOM dalam konferensi pers Pengawasan Pangan Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 di Jakarta, Rabu 11/3/2026  (sumber: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membina 2.407 pedagang takjil bermasalah di 513 lokasi pengawasan yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia setelah menemukan ratusan sampel pangan berbuka puasa tidak memenuhi syarat keamanan pangan selama Ramadhan.

Pembinaan tersebut dilakukan untuk memastikan makanan yang dijual kepada masyarakat selama bulan Ramadhan aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pembinaan diberikan agar para pelaku usaha tidak kembali menggunakan bahan berbahaya dalam produk pangan yang dijual kepada masyarakat.

"Pembinaan agar pelaku usaha tidak mengulangi penggunaan bahan berbahaya atau menjual pangan mengandung bahan berbahaya karena dapat membahayakan kesehatan masyarakat," ungkapnya.

Pengawasan dilakukan karena meningkatnya aktivitas penjualan makanan berbuka puasa oleh pedagang kaki lima maupun pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama Ramadhan.

Ratusan Sampel Takjil Mengandung Bahan Berbahaya

Dalam pengawasan tersebut BPOM melakukan pengujian terhadap 5.447 sampel pangan takjil yang diambil dari berbagai daerah di Indonesia.

Hasil pengujian menunjukkan 108 sampel atau sekitar 2,0 persen dinyatakan tidak memenuhi syarat keamanan pangan.

Dari jumlah tersebut sebanyak 50 sampel atau 46,3 persen diketahui positif mengandung formalin.

Formalin umumnya ditemukan pada mi kuning, bahan baku bakso, teri nasi, cincau hitam, tahu kotak, sambal goreng, cumi, serta tahu asin.

BPOM juga menemukan 35 sampel atau 32,4 persen mengandung rhodamin B.

Rhodamin B biasanya ditemukan pada aneka kerupuk, bolu, jeli merah, es cendol, es sirup, kue mangkok, serta minuman berwarna merah mencolok.

Selain itu sebanyak 22 sampel atau 20,4 persen terdeteksi mengandung boraks.

Boraks biasanya ditemukan pada mi kuning basah, lontong, kerupuk, serta sejumlah produk olahan berbahan tepung.

Satu sampel lainnya ditemukan mengandung pewarna tekstil metanil yellow pada produk tahu.

Taruna Ikrar menyatakan lima bahan berbahaya yang paling sering ditemukan dalam pengawasan pangan yaitu formalin, rhodamin B, boraks, metanil yellow, serta bahan kimia lain yang tidak diperuntukkan bagi pangan.

BPOM Temukan Pelanggaran Produk dan Lakukan Inspeksi Industri

Selain mengawasi pedagang takjil, BPOM juga menemukan sejumlah pelanggaran pada produk pangan di lokasi grosir Pasar Rebo Jakarta.

Pelanggaran tersebut antara lain produk dengan izin edar yang sudah kedaluwarsa.

BPOM juga menemukan penggunaan nomor izin edar milik produk lain pada produk pangan yang dijual.

Selain itu ditemukan praktik pemalsuan identitas produk pangan.

BPOM turut melakukan pengawasan terhadap sarana produksi pangan seperti industri kue kering.

Salah satu inspeksi dilakukan di fasilitas produksi PT Mustika Citarasa yang memproduksi produk bakery.

Inspeksi tersebut dilakukan untuk memastikan penerapan standar keamanan pangan dalam proses produksi.

Taruna Ikrar menegaskan tidak semua pedagang takjil memiliki produk bermasalah.

"Namun tidak semua pedagang takjil jualannya bermasalah. Salah satunya di sentra takjil di Makassar yang menunjukkan hasil menggembirakan karena seluruh 45 sampel yang diuji memenuhi syarat keamanan pangan. Ini juga sebagaimana pembinaan yang dilakukan BPOM bersama pemda setempat," ungkapnya.

Penulis :
Shila Glorya