
Pantau - Ekonom Universitas Negeri Surabaya Hendry Cahyono menilai kerja sama Indonesia dan Jepang di bidang energi dan mineral kritis sebagai langkah rasional di tengah situasi geopolitik global yang dinamis.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui penandatanganan memorandum of cooperation oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa pada 15 Maret 2026.
"Langkah ini merupakan respons rasional terhadap disrupsi geopolitik. Posisi Indonesia saat ini justru berada pada window of opportunity (celah peluang, red.) yang sangat baik," ujar Hendry.
Ia menyebut kerja sama ini tidak hanya berkaitan dengan pasokan energi, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi berlapis bagi Indonesia.
"Diharapkan ada multiplier effect (efek berganda, red.) bagi efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja," katanya.
Potensi Dampak Ekonomi dan Teknologi
Hendry menilai kolaborasi dengan Jepang menjadi sinyal keseriusan Indonesia dalam mengembangkan energi bersih berbasis teknologi maju.
"Ini menunjukkan ada langkah maju, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya implementasi kerja sama yang optimal, khususnya dalam aspek alih teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memperoleh manfaat penguasaan teknologi.
Fokus Mineral Kritis dan Energi Rendah Karbon
Kerja sama sektor mineral kritis difokuskan pada penguatan rantai pasok global agar lebih aman dan andal.
Sementara itu, kerja sama energi nuklir diarahkan pada pengembangan teknologi rendah karbon dengan standar keselamatan tinggi.
Jepang juga berkomitmen mendukung penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Legok Nangka sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara.
Kerja sama ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi sekaligus meningkatkan daya saing di sektor industri berbasis sumber daya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







