Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Israel Siapkan Pasukan Internasional di Gaza Mulai Mei, Libatkan Ribuan Tentara Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Israel Siapkan Pasukan Internasional di Gaza Mulai Mei, Libatkan Ribuan Tentara Indonesia
Foto: (Sumber: Ilustrasi Jalur Gaza setelah gencata senjata. /ANTARA/Anadolu/py.)

Pantau - Israel dilaporkan bersiap mengerahkan pasukan internasional di Jalur Gaza mulai Mei sebagai bagian dari fase lanjutan rencana yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di wilayah tersebut.

Informasi tersebut disampaikan oleh lembaga penyiaran publik Israel KAN.

Pasukan internasional yang akan dikerahkan diperkirakan berjumlah sekitar 5.000 tentara dari Indonesia.

Selain itu pasukan juga akan melibatkan puluhan tentara dari Kazakhstan, Maroko, Albania, dan Kosovo.

Pasukan tersebut diperkirakan mulai beroperasi pada 1 Mei.

Penempatan awal pasukan dilakukan di sekitar kota Palestina yang sedang dibangun dengan dukungan Uni Emirat Arab di wilayah Rafah di Jalur Gaza selatan.

Setelah itu penempatan pasukan akan diperluas ke wilayah lain di Jalur Gaza.

Delegasi militer dari negara-negara peserta diperkirakan akan tiba di Israel dalam waktu dua minggu.

Mereka akan melakukan tur pengintaian di Gaza sebelum pengerahan pasukan dilakukan.

Pasukan Asing Disiapkan untuk Operasi Stabilitas Gaza

Kehadiran pasukan internasional juga akan diperluas di area yang disebut media Israel sebagai garis kuning.

Garis kuning merupakan batas sementara di dalam Gaza yang memisahkan wilayah yang dikuasai Israel dengan wilayah yang dapat ditempati warga Palestina.

Batas tersebut ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata.

Ratusan pasukan asing juga diperkirakan akan berangkat ke Yordania bulan depan untuk menjalani pelatihan.

Setelah pelatihan selesai mereka akan masuk ke Gaza sebagai bagian dari pasukan internasional.

Pada 9 Februari sebuah stasiun televisi Israel melaporkan bahwa persiapan kedatangan ribuan tentara Indonesia telah dimulai.

Tentara tersebut direncanakan menjadi bagian dari pasukan stabilisasi dalam rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Rencana Transisi Gaza dan Dampak Konflik

Sebelumnya pada 16 Januari Gedung Putih mengumumkan struktur pemerintahan transisi Gaza.

Struktur tersebut meliputi Dewan Perdamaian, Dewan Eksekutif Gaza, Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, dan pasukan stabilisasi internasional.

Pasukan stabilisasi tersebut akan mengawasi operasi keamanan di Gaza.

Pasukan tersebut juga bertugas melucuti senjata kelompok bersenjata.

Selain itu pasukan akan memastikan distribusi bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi.

Langkah ini merupakan bagian dari fase kedua rencana 20 poin Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Rencana tersebut didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 2803 yang diterbitkan pada 17 November 2025.

Pada 6 Maret Indonesia menyatakan akan menarik diri dari Dewan Perdamaian jika tidak mendukung kemerdekaan Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan lebih dari 160 ulama di Istana Kepresidenan Jakarta.

Perjanjian gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Konflik yang berlangsung selama dua tahun di Gaza dilaporkan menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina.

Konflik tersebut juga melukai lebih dari 171 ribu orang lainnya.

Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah Gaza juga dilaporkan hancur akibat konflik tersebut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1.187 triliun.

Penulis :
Gerry Eka